The Djin’s Choice
Gempar, Lingga(37) seorang pedagang emas di pasar tiba-tiba mendapati anaknya Gilang(4) dalam keadaan “disunat”. Mengingat gilang belum disunat semenjak lahir. Sesuai dengan wasiat mendiang ibunya gilang. Bahwa gilang harus disunat ketika sudah duduk dikelas empat SD. Melihat kenyataan bahwa gilang masih umur 4 tahun dan mulai masuk di playgroup, membuat lingga kalang kabut. Gilang-pun ketika ditanya lingga siapa yang telah “memotong pipis”nya, jawabnya hanya “mbah putri…..mbah putri…..” berulang ulang.
Lingga yang sudah ditinggal istrinya sejak 3 tahun yang lalu, tampak kalut. Dia merasa telah mengkhianati wasiat istrinya. Semua merasa hampa bagi lingga. Dia menyalahkan keadaan. Bahkan dia tidak bisa menerima kondisi Gilang saat ini. Namun bagaimanapun juga lingga yang dulunya seorang santri, akhirnya tersadar bahwa kejadian ini ada kaitannya dengan Nenek Gumira(50), yang biasa dipanggil mbah putri oleh gilang. Bagaimanapun juga, nama yang pertama kali disebut oleh gilang adalah nama neneknya.
Lingga pun akhirnya menghubungi sang nenek. Ibu kandungnya. Ternyata nenek Gumira tidak tahu menahu soal kejadian yang menimpa gilang. Akhirnya orang tua Lingga datang ke rumah lingga untuk melihat kondisi gilang.
Ternyata prediksi nenek gumira benar. Bahwa gilang telah di sunat jin. Antara percaya dan tidak percaya, lingga sebenarnya tidak mau menjurus ke dalam situasi seperti itu. Namun pada akhirnya dia pasrah (walaupun dalam hatinya menolak). Sesuai dengan adat jawa, nenek gumira langsung membuat bubur merah dan dibagi-bagikan ke tetangga. Meminta doa dan keselamatan. Pada waktu membuatnya pun sang nenek juga menyelipkan semacam do’a atau orang jaman dahulu menyebutnya mantra. Kakek gumira(55) hanya bisa memeluk Gilang yang sempat terbawa bingung melihat kelakuan ayahnya. Hubungan yang erat antara kakek gumira dan gilang memang sudah terlihat sejak gilang lahir. Sang kakek sangat menyayangi gilang. Sebenarnya pun kakek gumira juga sudah merasakan firasat, namun ia berusaha untuk menutupinya. Bagaimanapun juga tidak ada salahnya jika tiba-tiba gilang ada yang “menyunatnya”.
Lingga akhirnya berusaha untuk menerima keadaannya itu dan mencari titik aman dengan menghubungi guru ngajinya dulu semasa kecil. Yaitu pak Ridwan. Seorang ustadz dan guru ngaji yang seingat Lingga dulu sering menangani hal-hal di luar nalar.
Lingga mencoba mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang kejadian yang dialami anaknya. Ternyata pak ridwan memberikan informasi yang lebih. Melebihi informasi yang diinginkan Lingga.
Bahwa kota tempat lingga tempati adalah merupakan titik temu dan berkumpulnya jin-jin sakti dari berbagai daerah. Terlebih lagi gunung prapen. Kerajaannya para jin. Setiap beberapa tahun sekali selalu ada unjuk kesaktian oleh para jin di daerah keramat itu. Karena jin di daerah tersebut mayoritas islam, maka adu ilmu pun tidak menyalahi aturan islam. Yaitu meng-khitan instan. Dan dari jaman dulu hingga sekarang peristiwa itu masih saja berlangsung. Kenapa yang dipilih adalah anak-anak, karena mereka adalah yang terpilih. Dan sudah ada dalam daftar “perhitungan” mereka. Jadi jangan heran, jika yang mengalami hal seperti gilang lebih dari 5 anak yang menyebar di daerah sini. Semuanya terjadi berturut-turut dan kesemuanya masih anak-anak.
Pak ridwan menjelaskan dengan seksama. Dan menyarankan kepada Lingga agar bisa menerima takdir. Dan semua itu harus disyukuri. Bagaimanapun juga tidak ada yang salah dengan disunat jin.
Pak ridwan juga mengingatkan, kadang ada juga kejadian seorang anak yang sempat disunat jin, namun keesokan harinya mendadak kembali utuh normal. Usut punya usut ternyata si orang tua tidak menginginkan anaknya disunat jin. Dan yang terjadi berikutnya dikemudian hari, sang anak menjadi “terbelakang mental”. Ada yang bilang itu adalah ulah sang jin yang merasa kesaktiannya tidak diakui oleh para jin yang lain. Apabila sang jin yang bersangkutan menyalahkan anak “pilihan”, tak ayal jin tersebut menuntut balas dan bisa jadi si anak itu akan mendapat ‘celaka’.
Bersyukurlah lingga yang menyadari bahwa tindakan ibunya, bisa menyelamatkan gilang. Lingga akhirnya mengambil libur tidak bekerja selama seminggu guna menghabiskan waktu bersama gilang. Dia juga sempat menggelar acara aqiqah buat gilang.
15 hari kemudian.
Tiba-tiba lingga mendapati anaknya sudah tidak ada di playgroup. Padahal lingga bermaksud untuk menjemputnya. Setelah ditanya-tanya kepada beberapa orang yang berada di playgroup, ternyata ada seorang kakek-kakek yang membawa gilang pulang. Sebelumnya gilang meminta guru pembimbingnya untuk diantar pulang. Tetapi tidak diperbolehkan. Lantas gilang menangis, dan disaat itulah ada kakek yang menjemputnya dan mengantar gilang pulang. Dan kelihatannya sang kakek misterius itu kenal dekat dengan gilang.
Mendengar cerita itu, lingga langsung bergegas kerumah kakek gumira. Sesampainya disana, lingga mendapati gilang sudah ada dipelukan kakek yang sudah meninggal dunia beberapa menit yang lalu. Gilang menangis sesenggukan memanggil-manggil nama “mbah kakung”. Lingga lemas. Dan tidak berdaya. Nenek gumira yang baru datang dari pasar pun langsung histeris dan kaget. Karena tidak ada tanda-tanda atau sakit sebelumnya.
Lingga masih bingung dengan kejadian yang dialami gilang sekali lagi. Bagaimana dia bisa sampai rumah kakeknya, siapa yang menjemputnya.
Setelah berkonsultasi dengan pak ridwan. Bahwa rupanya yang menjemput gilang waktu itu adalah roh pelindung kakek gumira. Yang menyamar menjadi kakek gumira. Adapun tujuannya menjemput gilang adalah karena itu adalah keinginan kakek gumira sendiri menjelang ajalnya untuk bertemu gilang yang ke-terakhir kalinya. Dan sekalian menyerahkan roh pelindung yang selama ini menyertai kakek gumira ke gilang. Lingga hanya bisa pasrah. Dan berdoa semoga keselamatan dan kebahagiaan selalu menyertai dia dan keluarganya.
Ditulis oleh Imam Ocean 