Pria Beringas yang Beringus (Last but not Least)

Agustus 20, 2008

Ini masih berhubungan dengan dua cerita yang terakhir, namun jangan khawatir isi dan jalan ceritanya dijamin beda. Hubungannya ya pasti saja berkaitan dengan ingus. Wakakakakakakakakkk.

Beberapa hari yang lalu tepatnya hari libur tujuh belasan. Semua antek-antek keluarga gue ngumpul jadi satu di rumah. Kurang lebih 27 biji sekeranjang. Biasa aja sih. Namanya juga keluarga besar, tak ayal selalu saja harus ada makanan sekaligus kudapan. Dan secara, sebagai “tuan rumah” harus menyediakan hal-hal tersebut. Berbagai macam pemikiran yang melanda akhirnya solusi terjitu ya menyediakan makanan siap saja aja. Gak usah repot-repot bikin sendiri. CAPEK!!!!

Sedikit demi sedikit makanan mulai terpesan dan terbeli. Dari yang termurah dan gak enak hingga yang murah dan enak. (sorry gak ada yang mahalan dikit, kebetulan lagi berhemat), sukur-sukur ada yang bawa makanan sendiri, namanya juga membesuk orang tua, pastinya selalu dong dan harus bawa bingkisan. Dengan status gue yang masih numpang, otomatis kebagian menjamu mereka-mereka yang sudah nge-rumah sendiri.

Trouble juga sih kalo disaat-saat kondisi rumah dalam siaga satu, penyakit meler menyerang. Gak enak banget. Bawaannya pingin tidur tapi gak bisa. Mau apa-apa juga gak enak. Tapi bagaimanapun juga namanya saudara yang datang dan berkumpul, mau gak mau harus meladeni mereka. Kasihan, jauh-jauh datang sambutannya biasa-biasa aja.

Dari ramah tamah hingga basi-basa-an semuanya terlontar dari mulut aku. Dan kadang kalanya kelakar tentang kapan aku married selalu saja muncul. Wah, nggak tahu nih hidung lagi meler…….. “gue married kalo meler gue udah sembuh”.

Tanpa menyalahkan keadaanku, kakak tertuaku menyuruhku bikin nasi goreng. Alasannya sih kangen dengan masakanku. Bilang saja kalo pengen nyiksa aku secara berlahan. Tapi baidhewe, nevermind sih. Lagian mereka gak sesering itu koq minta jatah sama gue. Jadi inget waktu kecil kalo dulu mereka-mereka-lah yang ngejagain gue, ngelindungin gue dari mulut singa, dari serangan bajak laut, bahkan nenek sihir terjahat sekalipun……Wakakakakakakk imajinasinya muncul deeeh.

Ngemeng-ngemeng aku sebenarnya juga gak sepenuh hati membuat nasi gorengnya. Rada bete sih, soalnya disaat semua berhappy-happy ria, aku dengan penuh derita anak tiri, membuat sajian untuk sodara-sodara penuntut-ku. Hilang rasa kebaikanku. Aku sedikit dendam, tapi itu tidak baik. Namanya juga adik, harus nurut sama kakak. “kamu tuh kecil, nurut aja sama (mas-mas mbak-mbak)mu, gak usah mbangkang”, pitutur itulah yang selalu ku ingat dari petuah emakku. Dan kadang aku pikir juga, apa sih hasilnya aku nurut sama mereka? Ada sih. Tapi gak memorabel. Justru gara-gara itu, aku malahan membalas dendam perbuatan mereka kepada anak-anak mereka sendiri.

Long-long time ago…………………

Gue masuk ke masa SD kelas 2……………………..

MBAK-E

Imam, tolong ya cabutin rambut ketek saya!

Entar tak kasih permen MENTOS…..!!!

GUE

Tapi aku masih belajar…….

MBAK-E

Awakmu gelem opo ora???

GUE

(sebenarnya kepingin banget permen MENTOS)

Gelem, tapi aku masih belajar nih…….

MBAK-E

Kalo nyabutin sekarang tak kasih sebungkus, kalo gak mau ya sudah!!!!

GUE

Pake REXONA kan???

MBAK-E

Walah!!!! Gayamu, kemaren gak pake aja kamu mau,

koq sekarang pake nanya begituan……

Akhirnya gue dengan perasaan terhipnotis (give me mentos!!!!!), menghampiri mbak-e yang sudah menelentangkan lengan kanan kirinya.

GUE

(polos)

Mana supit-nya?

…………………

Tiba-tiba pindah ke masa SD kelas 3

……………………

MAS-L

Mam, kamu lagi ngapain? Injak-injak punggung mas ya, nanti tak beliin tas sekolah.

GUE

Tapi aku capek, tadi ada olahraga.

MAS-L

Kan tinggal nginjek aja, gak pake lari-lari…….

GUE

Iya…tapi masih capek….

MAS-L

Sudahlah….dari pada kamu bengong kayak gitu…..

GUE

Saya kan menghafal perkalian.

MAS-L

Lha…..iya dari pada kamu ndomblong ngafalin perkalian yang gak jelas,

sambil nginjek-nginjek pasti cepet hafal.

GUE

Benar kah?

MAS-L

Iya. Mumpung ada kesempatan,

kalo enggak kamu bisa susah menghafalnya nanti.

GUE

(dalam hati)

Mumpung juga sih……

Akhirnya dengan cerah hati, aku mulai meniti langkahku di punggung kakak laki-laki tertuaku. Sambil menghafal perkalian 1 sampe 10. Dan alhasil kala itu memang terasa mujarab bagiku. Aku hafal dengan menakjubkan.

Tak terasa setengah jam berlalu mas-L tertidur pulas. Dan aku akhirnya menyelesaikan misiku……

Satu minggu kemudian, aku mulai menagih janji tas sekolah yang pernah ia janjikan. Dan sampai detik ini, tas itu tak pernah aku terima. Menyedihkan. Tapi kadang aku masih percaya, bahwa menghafal di punggung seseorang memang bisa berguna. Believe it or not…….atau aku nya aja yang bego?!!!!!!

……………………………

mundur lagi ke masa 4 taonan

………………….

MBAK-L

Mam, ayo ikut!

GUE

Kemana?

MBAK-L

Udah lah ikut aja……

GUE

Kemana sih????

MBAK-L

Nanti tak kasih tau….ayo ikut!

GUE

Yo wes.

Akhirnya aku nurut dan mengikutinya dari belakang.

Jaman dahulu kala, tepatnya waktu aku kecil dulu, jarak rumah gue dengan WC terbilang jauh. Bisa dibilang terpisah jarak 10 meter.

Ditambah lagi penerangan yang kurang menjadikan posisi WC dimalam hari terbilang “menakutkan”.Dan itulah yang menjadi alasan kenapa aku diajak oleh DIA.

Pada awalnya aku sudah gak enak hati dan bawaannya kepingin nolak, tapi bagaimana lagi aku sudah terlanjur di WC.

MBAK-L

Sekarang kamu tunggu di depan pintu ya.

GUE

Emoh!!! Aku takut!!!

MBAK-L

Gak usah takut!!!! Nyanyi aja……

GUE

Nyanyi apa??? Gak bisa….

(maklum…dulu gak pake sekolah TK, langsung masuk SD)

MBAK-L

Nyanyi selamat ulang tahun aja! Kamu kan bisa!!!

Udah kamu disini aja. Pejamkan aja matamu. Jangan liat ke sana

(menunjuk rerimbunan pohon pisang)

GUE

(dengan ketakutan lumrah)

Aku takut….

MBAK-L

Gak usah takut. Udah buruan nyanyi.

Mbak sudah gak tahan nih…

Akhirnya aku berdiri di depan pintu WC sendiri di kegelapan malam. Dan dengan perasaan takut aku mulai menyanyi lagu selamat ulang tahun.

GUE

Selamat…ulang…ta…un kami ucapkan…

(Dan seterusnya……..)

Hingga lagu itu terulang dua kali dan sampailah pada bait yang terakhir.

GUE (Cont’d)

Selamat panjang umur dan ba…ha…gi..aaa!!!!

Tiba-tiba bunyi BROOOOK!!!!! Mengamini lagu yang telah aku tembangkan. Lagu selamat ulang tahun di tempat yang salah itu menjadi kenangan terpahit. Namun lucu juga jika mengingat kembali. Cerita inipun juga dari versi-nya MBAK-L. wajar aja sih, gue gak sebegitu inget waktu itu…….(mungkin ini juga kali ya, yang menjadi alasan kenapa aku benci nyanyi lagu selamat ulang tahun secara lisan!!!!!)

…………………………

Dan lamunanku akhirnya kembali ke gue yang sekarang. Itupun tersadar lantaran aku bersin hebat. Sebuah bersin yang enggak biasanya. BERSIN???!!!! Gila, aku kan lagi beringus a.k.a meler????? Dan memang benar, aku baru sadar kalo ingus yang sempat lama tersimpan itu berhamburan muncrat tak karuan ke wajan yang penuh dengan nasi gorengan. OH NO!!!!!

Tapi situasi itu tak terlihat saksi mata disekitar, hanya aku dan penggorengan. Apakah yang harus aku lakukan? Meneruskan atau di ganti? Setelah aku amati ternyata ingus itu tak kentara. Dan tak mencolok. Ya dengan baik hatinya aku meneruskan prosesi itu. Dengan tertawa dalam hati aku bahagia. Oh indahnya dunia. Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya memanfaatkan agar tidak ada yang terbuang. Mubadzir kan???……

Dan alhasil, hidangan yang aku buat dengan penuh penghayatan raib ditelan “alam”. semuanya doyan. Bahkan ketagihan.

Alhamdulillah…………….. semoga taon depan lebih baik………

GOODLUCK TO ALL MY BROTHERS & SISTERS……


Pria Beringas yang Beringus (Stairway to Heaven)

Juni 2, 2008

Bukan berarti mengada-ada, atau memang sengaja di-ada-kan. Yang jelas dan pasti ini memang sepertinya harus ada dan trilogy wannabe. Karena maunya sih begitu. Masalahnya yang ketiga masih tanda Tanya dan misteri. Walau awalnya bisa memastikan akan terjadi ke-tiga kali, tapi keyakinan bahwa memang akan terjadi tiga kali juga kuat. Sehingga tak sulit untuk menetapkan bahwa “pria beringas yang beringus” memang harus ada tiga babak. Dan sekarang memang saatnya untuk yang kedua.

Keberingasan aku tentang something yang berbau pilek kadang sering tak bisa ditolerir kemunculannya. Selalu “unexpected” . dan lucunya lagi situasi yang mendukungnya sangat pas untuk mendapatkan malu buat-ku. Kalau yang pertama di sebuah kereta express. Kejadian kedua terjadi di tempat yang sangat sakral dan “suci” bagi muslim. Tanpa bermaksud melecehkan masjid, kejadian yang satu ini boleh dibilang very-very embarrass (alias memalukan sangat).

Sesuai dengan tuntunan islam, setiap muslim laki-laki diwajibkan untuk menjalankan sholat Jum’at. Tentunya setiap hari jum’at. Mungkin lain lagi kalo ajaran sholat jum’at diperintahkan untuk dikerjakan hari minggu, bisa jadi namanya menjadi sholat Ahad. Tapi bagaimanapun jum’at dan ahad gak ada bedanya. Paling-paling Yang Kuasa punya maksud tertentu mengapa sholat Jum’at memang harus dikerjakan hari jum’at. (koq jadi ngomongin agama? Bukan porsi aku sih…..)

Kembali ke topic. Every Friday, biasanya aku memilih tak berkegiatan. Mengingat hari jum’at adalah hari terpendek yang pernah ada. Dibanding dengan hari-hari yang lain. Moment, hari jum’at adalah moment dimana aku biasanya memilih libur. Karena jam 11.00 sudah menjadi alarmi alias alarm alami. Sudah bergiat untuk mandi dan bersiap diri menggegas ke masjid. Siapa yang awal datangnya, pahalanya juga gak tanggung-tanggung. Kalo datangnya kita molor dan mendapat shof paling belakang. Pahalanya segedhe kucing. Beda dengan datang lebih awal dan mendapat tempat di baris depan, dijamin unta menanti anda disurga (begitu yang selalu emak bilang kepadaku sejak sd hingga kini).

Kebetulan hari itu aku mendapat kesempatan untuk bisa datang terlambat. Hahahahahaa….. ada sesuatu yang mendadak ngganggu. Yah, setidaknya tidak menghilangkan waktu sholatku. Di masjid, aku mendapatkan tempat di tengah. Gak didepan, gak dibelakang. Yang tengah-tengah. The center of view, opo-lah itu yang jelas semua orang pasti bisa melihatku. Menyimak khutbah dengan seksama, walau kerap kali aku selingi dengan “ajep-ajep”. Jangan ada pikiran kalo aku triping di masjid ya, ajep-ajep di sini maksudnya duduk bersila dengan kepala mengangguk-angguk lantaran ngantuk. Kondisi badan tak bisa menahan beban kepala yang semestinya di tegakkan. Kalo sudah condong dan menunduk disertai lantunan kalimat-kalimat petuah, biasanya yang terjadi selalu “ajep-ajep” bahkan sampai menemukan jalan lain ke roma. Saking nyenyaknya kalii…..

Walau sesekali mengusap hidungku yang memang dalam keadaan ber”air” saat itu. Pas banget. Hari itu aku tertular oleh keponakan-keponakanku yang dalam keadaan siaga satu virus “cendol”. Pilek di hari itu membuatku siaga selalu menjaga agar tidak terjadi kesalahan yang memalukan.

Dari khutbah akhirnya sampai juga memulai sholat jum’atnya. Dengan khusyuk (mencoba untuk khusyuk, walaupun si”cendol”selalu berusaha untuk keluar dari hidung) aku me-makmum-i imam. Hingga sampailah pada takhiyatul akhir di rokaat kedua. Entah kurang control atau memang aku lengah(saking khusyuknya kali) tiba-tiba yang memalukan itu datang juga. Dengan sengaja atau tidak, lender itu menghembus dan membentuk “bubble” yang lumayan besar(tidak besar-besar amat sih, gak kayak pacarnya Bo Bo ho) yang sempat mengagetkan diriku sekaligus diri”nya”. Aku panic dengan bubble itu. 5 detik moment itu terjadi dan bayangkan dalam hitungan 1 detik saja, orang bisa melihat apalagi 5 detik. Belum lagi anak-anak yang sholat di sampingku. “wah melembung cendolnya”. Padahal masih kondisi sholat belum selesai. Dasar anak-anak!!!

Lendir itu dengan sekuat tenaga aku hirup kembali dan memaksanya untuk segera masuk kedalam rongga hidungku lagi. SRUUUUUP. Suaranya keras. Sekeras suara gajah. Wajar saja semuanya dengar, lha wong saat itu masih belum selesai sholat. Hening memang. Suara itu memucatkan wajahku. Kini aku panas dingin. Apa reaksi orang setelah ini. Aku jadi tak konsen dengan sholatku. Rasanya buru-buru pingin pulang.

What the hell is……!!!!!!

Ngapain juga aku harus malu. Wajar saja lah orang pilek. Kenapa mesti repot. Kenapa mesti menunduk malu. Apa orang nggak boleh punya pilek?

Tapi kalau sampai “bubble” gitu, apa orang-orang menyebutnya wajar? Aku rasa sih enggak. Tapi mengapa ya, aku koq malah dengan santainya merasakan kebanggan yang luar biasa. Bangga karena bisa dengan hebat menahan rasa yang sebenarnya malu luar biasa. Mungkin cara itulah yang bisa membebaskan kita dari rasa kurang percaya diri. Inspirasi yang aneh.

Jadinya jum’at itu aku menambah satu lagi koleksiku tentang pria beringas yang beringus. Sampai ketemu di session yang terakhir. Wakakakakakk……


PRIA BERINGAS YANG BERINGUS (Bag.1)

Mei 12, 2008

Mengapa judulnya pake kata beringus?

Pasti kalian akan menghubungkan dengan sosok yang jorok…..dan tidak bermoral. udah beringas, beringus lagi……..(KOMPLIT).

Tapi kalo yang beringas dan beringus itu aku, pastinya semua kan menjauh, muntah, mual dan ketawa. kombinasi reaksi sifat manusia yang wajar bila melihat kejorokan, dan kelucuan berbaur jadi satu.

ceritanya sih di tiga tempat yang berbeda. dan kesemuanya mengandung pesan yang syarat makna. yaitu, KALAU PILEK, WASPADALAH!!!!!

Bagian pertama:

dalam rangka keberangkatan pertama gue ke Bandung. ya pastinya lumrah kalo aku naik transportasi kereta api. Masih ingat di benakku, nama kereta itu Mutiara Selatan. aku sih gak pilih-pilih kereta apa yang harus kutunggangi, berhubung info dari “sang guide”nya kereta itu, ya mau gimana lagi. dengan ongkos 120 ribu, aku meninggalkan gresik yang ter”CINTA” menuju BAndung yang musti kudu transit dulu lewat Surabaya. Memang sial kalo stasiun aja nggak punya. maunya numpang lewat aja. (kalau jadi walikota, akan ku bangun stasiun kereta api express, KALAU PERLU)

TICKET

di kereta api dapetnya tempat duduk samping jendela. wah enak banget nih…… bisa ngeliat pemandangan luar yang liar. (lha padahal gak seliar itu…..)

Kadung beli tiket disaat virus flu melanda, akhirnya duduk di kursi kereta dengan suasana sentrap-sentrup(menyedot “sesuatu berlendir” dari rongga hidung). Musin hujan gak komplit rasanya kalo gak kena pilek.  (Kembali ke kereta…….)

Di perjalanan yang lambat laun jadi membosankan. aku hanya bisa memenungkan diri sendiri. mencoba mencari inspirasi dari segala sudt pandang yang bisa kulihat. Pria paruh baya yang duduk disampingku mungkin adalah karakter pria penidur. karena sepanjang perjalanan aku gak melihat reaksi sama sekali dari dia. dan dari cara aku memandangnya, dia terbilang “batu”. Orang yang pastinya sulit untuk dibuat bangun. tapi yang paling aku takutkan dari pria penidur adalah kalau-kalau aku ditiduri. dan nggak bangun-bangun…. Walah…..hayalanku semakin gak jelas…..ngeliat orang yang tidur.

dan kini kualihkan pandanganku ke arah ibu muda yang sedang menyusui anaknya. What??!!!!! “menyusui”??? dengan santainya dia memeras-meras susunya yang kelihatannya gak keluar-keluar. tentunya dengan gerakan biasa, bukan gerakan binal kayak yang di film-film porno. lagian yang nyusu juga anak-anak, bukan Om-om yang gak tau diri.

tapi entah kenapa, aku merasa kasian dengan ibu muda itu. kelihatannya dia adalah ibu muda yang udik. yang pertama kali naik kelas bisnis. dan gak tau caranya bertingkah laku yang baik di depan para penumpang yang lain.

Ah!!! dari pada aku ikut-ikutan haus, atau ikut-ikutan memeras, mendingan aku menghentikan aktivitas terlarangku dengan mengadu ke pikiran orisinalku tanpa harus ikut-ikutan.

kembali aku menggiatkan tanganku untuk mengusap ingus yang sering kali keluar tanpa permisi. Tak ada kompromi buat yang satu ini. semuanya begitu tak berarti bagiku. berhubung aku rela melakukan demi apa aja, (ingat!! aku adalah tipe pria beringas) so aku memberanikan diri meminta seorang wanita untuk sebuah kertas tissu. hanya selembar kertas tissu (yang nantinya akan menjadi masalah besar)!!!!!!

wanita itu bingung…. tapi pada akhirnya dia sadar untuk apa tissu itu bagiku. ketika dia menatap hidungku yang ranum memerah semangkah (sengaja pakai H biar Hah).

Kembali ke singgahsana, aku menyumpat dan menggenjrotkan ingusku kencang. Gak peduli mata yang lain memandang. Akhirnya…..keluarlah semua kekentalan-kekentalan yang menghambat jalur nafasku. Aku lega. dan aku bingung, mau ku kemanakan tissu ber”bumbu”  tadi. Aku bimbang dengan barang yang satu ini. ke kolong? kalo keinjak aku sendiri gimana? kan ada jendela!

Ya udah, dengan pura-pura gak tau, aku menyelipkan tissu tadi ke arah jendela. dan secepat kilat aku melempar tissu tadi dan terhempas dahsyat di sapu cepatnya kereta yang melaju. kembali dalam duduk tanpa rasa bersalah karena telah membuang noda yang menjijikkan, bagi yang merasa jijik tentunya. aku hanya bisa berpura tidur dalam sekejap saja.

HUWEEEEEK!!!!!!

Bunyi itu membangkitkan kepura-puraanku dalam tidur.  apa yang telah terjadi? aku berusaha mencari sumber info itu. Siapa orang bodoh dan tolol yang pakai acara muntah segala di kereta yang terbilang cukup lumayan ini? Namun suara huweek itu akhirnya di padukan dengan suara-suara yang memanggil “mas”. gak taunya suara itu berasal dari kursi belakangku. wanita itu tampak menutupi mulutnya. sesekali memelototkan matanya kearahku sambil melirik-lirik kearah jendela. seolah-olah dia menyuruhku untuk “lihat itu nyet”!!!!!.

Aku tanpa merasa salah, menuruti kata “mata”nya. Ku tengoklah jendela itu. dan ALAMAAAK!!!! aku teringat dengan benda yang beberapa menit lalu kutelantarkan ke luar jendela. benda putih tipis ber”jeli” hijau itu menempel di tribun kehormatan yang dilihat seantero penumpang sekitar jendela. GILAAA!!! IT’S MINE (seperti gollum yang mau ngerebut the ring dari tangan frodo) Aku langsung menjulurkan tanganku keluar jendela dan segera mengenyahkan tissu biadab itu dari jendela. dan tanganku yang dempal, pada akhirnya nyangkut dengan sempurna. Tontonan petang itu akhirnya menjadi menarik. Seorang Pria yang tangannya kejepit lantaran hendak menyingkirkan ingusnya yang nemplok di kaca jendela.

“Moment ini dipersembahkan oleh Tango”, memang tango enak.

Semua tindakan brutalku tadi akhirnya menjadi obrolan kasar seisi kereta api. Ada yang bilang, bodohnya aku dengan lembut. ada yang terang-terangan memanggilku “anak ingusan”. Koq jadi inget dengan sesuatu yang berbau film ya?

Ih. yang jelas gak ada yang merasa kenyang petang itu. semuanya malas makan. semuanya malas minum. Dan semuanya sepakat untuk cuti makan. dan cuti minum. selama mereka masih berada bersamaku, aku pikir selama itu pula-lah mereka tidak akan makan dan minum. Aku jamin itu!!!!

dan untuk bagian kedua, tunggu cerita berikutnya…………