Lady Bakiak

Maret 8, 2008

LADY BAKIAK

Nenek (80) yang sebatang kara itu tidak mau dipanggil nenek. “secara, aku ini nggak punya anak apalagi cucu. Jadi jangan panggil aku ‘embah’!!!”. Umpatnya pada seorang wanita yang membeli kembang tujuh rupa miliknya. Beruntung hari itu, sang nenek mendapati barang dagangannya habis tak bersisa.

Lady bakiak, itulah sebutannya di kampung tempat dia tinggal. Lantaran keseringannya memakai sandal dari kayu untuk beraktivitas di luar rumah. Apalagi suara yang ditimbulkan oleh sandal itu menggema di setiap lorong-lorong gang.

Klothak….klothak…..klothak!!! Semua pasti tahu, kalau si nenek pasti sedang melintas. Kadangkalanya beberapa warga mengeraskan volume radio atau televisinya guna menutupi suara bising yang disebabkan oleh sang nenek. Sedikit dari warga beranggapan, sebenarnya suara berisik itu adalah arwah dari sang nenek yang bergentayangan. Namun sebagian dari warga tidak mempedulikan hal itu, bagaimanapun juga, yang namanya arwah pastinya mengganggu. Pada kenyataannya, hal itu bertolak belakang dengan sikap anak-anak penghuni kampung itu. Justru kedatangan si nenek ditunggu-tunggu. Apalagi bila barang dagangan nenek habis. Pastinya tampah yang diusung dikepala rentanya itu akan dijadikan tabuhan yang mengiringi nyanyian tembang jawa kunonya.

Suatu ketika, sang nenek pulang dengan barang dagangan masih ada. Tiba-tiba awan tampak tak bersahabat. Malam yang pekat itu menjadi saksi jatuhnya rintik demi rintik pembasah bumi. Sang nenek mempercepat lajunya. Tak ada lagi suara klothak klothak. Lumpur telah menelan suara bisingnya. Dia memang lincah menepis hujan, tapi tak dinyana kakinya yang rapuh menyandung batu. Tubuh itu roboh dengan kepala terantuk batu. Sebuah batu dengan tatah deretan huruf dan angka. Nisan itu sedikit merah yang kemudian hilang dengan perlahan disapu air hujan.

Dia tak bergerak, terbujur kaku tepat didepan sebuah gubug reyot. rangkaian bambu lapuk yang tersusun tak layak yang berdiri tepat diatas sebuah kuburan cina tanpa nama.

tinggalku disana, di pemakaman Kembang Jepun. Bukan pemukimannya. Hehehehee”, tawa sang nenek sembari melayani seorang pembeli yang mencoba beramah tamah dengannya.