Bukan berarti mengada-ada, atau memang sengaja di-ada-kan. Yang jelas dan pasti ini memang sepertinya harus ada dan trilogy wannabe. Karena maunya sih begitu. Masalahnya yang ketiga masih tanda Tanya dan misteri. Walau awalnya bisa memastikan akan terjadi ke-tiga kali, tapi keyakinan bahwa memang akan terjadi tiga kali juga kuat. Sehingga tak sulit untuk menetapkan bahwa “pria beringas yang beringus” memang harus ada tiga babak. Dan sekarang memang saatnya untuk yang kedua.
Keberingasan aku tentang something yang berbau pilek kadang sering tak bisa ditolerir kemunculannya. Selalu “unexpected” . dan lucunya lagi situasi yang mendukungnya sangat pas untuk mendapatkan malu buat-ku. Kalau yang pertama di sebuah kereta express. Kejadian kedua terjadi di tempat yang sangat sakral dan “suci” bagi muslim. Tanpa bermaksud melecehkan masjid, kejadian yang satu ini boleh dibilang very-very embarrass (alias memalukan sangat).
Sesuai dengan tuntunan islam, setiap muslim laki-laki diwajibkan untuk menjalankan sholat Jum’at. Tentunya setiap hari jum’at. Mungkin lain lagi kalo ajaran sholat jum’at diperintahkan untuk dikerjakan hari minggu, bisa jadi namanya menjadi sholat Ahad. Tapi bagaimanapun jum’at dan ahad gak ada bedanya. Paling-paling Yang Kuasa punya maksud tertentu mengapa sholat Jum’at memang harus dikerjakan hari jum’at. (koq jadi ngomongin agama? Bukan porsi aku sih…..)
Kembali ke topic. Every Friday, biasanya aku memilih tak berkegiatan. Mengingat hari jum’at adalah hari terpendek yang pernah ada. Dibanding dengan hari-hari yang lain. Moment, hari jum’at adalah moment dimana aku biasanya memilih libur. Karena jam 11.00 sudah menjadi alarmi alias alarm alami. Sudah bergiat untuk mandi dan bersiap diri menggegas ke masjid. Siapa yang awal datangnya, pahalanya juga gak tanggung-tanggung. Kalo datangnya kita molor dan mendapat shof paling belakang. Pahalanya segedhe kucing. Beda dengan datang lebih awal dan mendapat tempat di baris depan, dijamin unta menanti anda disurga (begitu yang selalu emak bilang kepadaku sejak sd hingga kini).
Kebetulan hari itu aku mendapat kesempatan untuk bisa datang terlambat. Hahahahahaa….. ada sesuatu yang mendadak ngganggu. Yah, setidaknya tidak menghilangkan waktu sholatku. Di masjid, aku mendapatkan tempat di tengah. Gak didepan, gak dibelakang. Yang tengah-tengah. The center of view, opo-lah itu yang jelas semua orang pasti bisa melihatku. Menyimak khutbah dengan seksama, walau kerap kali aku selingi dengan “ajep-ajep”. Jangan ada pikiran kalo aku triping di masjid ya, ajep-ajep di sini maksudnya duduk bersila dengan kepala mengangguk-angguk lantaran ngantuk. Kondisi badan tak bisa menahan beban kepala yang semestinya di tegakkan. Kalo sudah condong dan menunduk disertai lantunan kalimat-kalimat petuah, biasanya yang terjadi selalu “ajep-ajep” bahkan sampai menemukan jalan lain ke roma. Saking nyenyaknya kalii…..
Walau sesekali mengusap hidungku yang memang dalam keadaan ber”air” saat itu. Pas banget. Hari itu aku tertular oleh keponakan-keponakanku yang dalam keadaan siaga satu virus “cendol”. Pilek di hari itu membuatku siaga selalu menjaga agar tidak terjadi kesalahan yang memalukan.
Dari khutbah akhirnya sampai juga memulai sholat jum’atnya. Dengan khusyuk (mencoba untuk khusyuk, walaupun si”cendol”selalu berusaha untuk keluar dari hidung) aku me-makmum-i imam. Hingga sampailah pada takhiyatul akhir di rokaat kedua. Entah kurang control atau memang aku lengah(saking khusyuknya kali) tiba-tiba yang memalukan itu datang juga. Dengan sengaja atau tidak, lender itu menghembus dan membentuk “bubble” yang lumayan besar(tidak besar-besar amat sih, gak kayak pacarnya Bo Bo ho) yang sempat mengagetkan diriku sekaligus diri”nya”. Aku panic dengan bubble itu. 5 detik moment itu terjadi dan bayangkan dalam hitungan 1 detik saja, orang bisa melihat apalagi 5 detik. Belum lagi anak-anak yang sholat di sampingku. “wah melembung cendolnya”. Padahal masih kondisi sholat belum selesai. Dasar anak-anak!!!
Lendir itu dengan sekuat tenaga aku hirup kembali dan memaksanya untuk segera masuk kedalam rongga hidungku lagi. SRUUUUUP. Suaranya keras. Sekeras suara gajah. Wajar saja semuanya dengar, lha wong saat itu masih belum selesai sholat. Hening memang. Suara itu memucatkan wajahku. Kini aku panas dingin. Apa reaksi orang setelah ini. Aku jadi tak konsen dengan sholatku. Rasanya buru-buru pingin pulang.
What the hell is……!!!!!!
Ngapain juga aku harus malu. Wajar saja lah orang pilek. Kenapa mesti repot. Kenapa mesti menunduk malu. Apa orang nggak boleh punya pilek?
Tapi kalau sampai “bubble” gitu, apa orang-orang menyebutnya wajar? Aku rasa sih enggak. Tapi mengapa ya, aku koq malah dengan santainya merasakan kebanggan yang luar biasa. Bangga karena bisa dengan hebat menahan rasa yang sebenarnya malu luar biasa. Mungkin cara itulah yang bisa membebaskan kita dari rasa kurang percaya diri. Inspirasi yang aneh.
Jadinya jum’at itu aku menambah satu lagi koleksiku tentang pria beringas yang beringus. Sampai ketemu di session yang terakhir. Wakakakakakk……
Ditulis oleh Imam Ocean 
Ditulis oleh Imam Ocean 