PRIA BERINGAS YANG BERINGUS (Bag.1)

Mengapa judulnya pake kata beringus?

Pasti kalian akan menghubungkan dengan sosok yang jorok…..dan tidak bermoral. udah beringas, beringus lagi……..(KOMPLIT).

Tapi kalo yang beringas dan beringus itu aku, pastinya semua kan menjauh, muntah, mual dan ketawa. kombinasi reaksi sifat manusia yang wajar bila melihat kejorokan, dan kelucuan berbaur jadi satu.

ceritanya sih di tiga tempat yang berbeda. dan kesemuanya mengandung pesan yang syarat makna. yaitu, KALAU PILEK, WASPADALAH!!!!!

Bagian pertama:

dalam rangka keberangkatan pertama gue ke Bandung. ya pastinya lumrah kalo aku naik transportasi kereta api. Masih ingat di benakku, nama kereta itu Mutiara Selatan. aku sih gak pilih-pilih kereta apa yang harus kutunggangi, berhubung info dari “sang guide”nya kereta itu, ya mau gimana lagi. dengan ongkos 120 ribu, aku meninggalkan gresik yang ter”CINTA” menuju BAndung yang musti kudu transit dulu lewat Surabaya. Memang sial kalo stasiun aja nggak punya. maunya numpang lewat aja. (kalau jadi walikota, akan ku bangun stasiun kereta api express, KALAU PERLU)

TICKET

di kereta api dapetnya tempat duduk samping jendela. wah enak banget nih…… bisa ngeliat pemandangan luar yang liar. (lha padahal gak seliar itu…..)

Kadung beli tiket disaat virus flu melanda, akhirnya duduk di kursi kereta dengan suasana sentrap-sentrup(menyedot “sesuatu berlendir” dari rongga hidung). Musin hujan gak komplit rasanya kalo gak kena pilek.  (Kembali ke kereta…….)

Di perjalanan yang lambat laun jadi membosankan. aku hanya bisa memenungkan diri sendiri. mencoba mencari inspirasi dari segala sudt pandang yang bisa kulihat. Pria paruh baya yang duduk disampingku mungkin adalah karakter pria penidur. karena sepanjang perjalanan aku gak melihat reaksi sama sekali dari dia. dan dari cara aku memandangnya, dia terbilang “batu”. Orang yang pastinya sulit untuk dibuat bangun. tapi yang paling aku takutkan dari pria penidur adalah kalau-kalau aku ditiduri. dan nggak bangun-bangun…. Walah…..hayalanku semakin gak jelas…..ngeliat orang yang tidur.

dan kini kualihkan pandanganku ke arah ibu muda yang sedang menyusui anaknya. What??!!!!! “menyusui”??? dengan santainya dia memeras-meras susunya yang kelihatannya gak keluar-keluar. tentunya dengan gerakan biasa, bukan gerakan binal kayak yang di film-film porno. lagian yang nyusu juga anak-anak, bukan Om-om yang gak tau diri.

tapi entah kenapa, aku merasa kasian dengan ibu muda itu. kelihatannya dia adalah ibu muda yang udik. yang pertama kali naik kelas bisnis. dan gak tau caranya bertingkah laku yang baik di depan para penumpang yang lain.

Ah!!! dari pada aku ikut-ikutan haus, atau ikut-ikutan memeras, mendingan aku menghentikan aktivitas terlarangku dengan mengadu ke pikiran orisinalku tanpa harus ikut-ikutan.

kembali aku menggiatkan tanganku untuk mengusap ingus yang sering kali keluar tanpa permisi. Tak ada kompromi buat yang satu ini. semuanya begitu tak berarti bagiku. berhubung aku rela melakukan demi apa aja, (ingat!! aku adalah tipe pria beringas) so aku memberanikan diri meminta seorang wanita untuk sebuah kertas tissu. hanya selembar kertas tissu (yang nantinya akan menjadi masalah besar)!!!!!!

wanita itu bingung…. tapi pada akhirnya dia sadar untuk apa tissu itu bagiku. ketika dia menatap hidungku yang ranum memerah semangkah (sengaja pakai H biar Hah).

Kembali ke singgahsana, aku menyumpat dan menggenjrotkan ingusku kencang. Gak peduli mata yang lain memandang. Akhirnya…..keluarlah semua kekentalan-kekentalan yang menghambat jalur nafasku. Aku lega. dan aku bingung, mau ku kemanakan tissu ber”bumbu”  tadi. Aku bimbang dengan barang yang satu ini. ke kolong? kalo keinjak aku sendiri gimana? kan ada jendela!

Ya udah, dengan pura-pura gak tau, aku menyelipkan tissu tadi ke arah jendela. dan secepat kilat aku melempar tissu tadi dan terhempas dahsyat di sapu cepatnya kereta yang melaju. kembali dalam duduk tanpa rasa bersalah karena telah membuang noda yang menjijikkan, bagi yang merasa jijik tentunya. aku hanya bisa berpura tidur dalam sekejap saja.

HUWEEEEEK!!!!!!

Bunyi itu membangkitkan kepura-puraanku dalam tidur.  apa yang telah terjadi? aku berusaha mencari sumber info itu. Siapa orang bodoh dan tolol yang pakai acara muntah segala di kereta yang terbilang cukup lumayan ini? Namun suara huweek itu akhirnya di padukan dengan suara-suara yang memanggil “mas”. gak taunya suara itu berasal dari kursi belakangku. wanita itu tampak menutupi mulutnya. sesekali memelototkan matanya kearahku sambil melirik-lirik kearah jendela. seolah-olah dia menyuruhku untuk “lihat itu nyet”!!!!!.

Aku tanpa merasa salah, menuruti kata “mata”nya. Ku tengoklah jendela itu. dan ALAMAAAK!!!! aku teringat dengan benda yang beberapa menit lalu kutelantarkan ke luar jendela. benda putih tipis ber”jeli” hijau itu menempel di tribun kehormatan yang dilihat seantero penumpang sekitar jendela. GILAAA!!! IT’S MINE (seperti gollum yang mau ngerebut the ring dari tangan frodo) Aku langsung menjulurkan tanganku keluar jendela dan segera mengenyahkan tissu biadab itu dari jendela. dan tanganku yang dempal, pada akhirnya nyangkut dengan sempurna. Tontonan petang itu akhirnya menjadi menarik. Seorang Pria yang tangannya kejepit lantaran hendak menyingkirkan ingusnya yang nemplok di kaca jendela.

“Moment ini dipersembahkan oleh Tango”, memang tango enak.

Semua tindakan brutalku tadi akhirnya menjadi obrolan kasar seisi kereta api. Ada yang bilang, bodohnya aku dengan lembut. ada yang terang-terangan memanggilku “anak ingusan”. Koq jadi inget dengan sesuatu yang berbau film ya?

Ih. yang jelas gak ada yang merasa kenyang petang itu. semuanya malas makan. semuanya malas minum. Dan semuanya sepakat untuk cuti makan. dan cuti minum. selama mereka masih berada bersamaku, aku pikir selama itu pula-lah mereka tidak akan makan dan minum. Aku jamin itu!!!!

dan untuk bagian kedua, tunggu cerita berikutnya…………

~ oleh Imam Ocean di/pada Mei 12, 2008.

Satu Tanggapan to “PRIA BERINGAS YANG BERINGUS (Bag.1)”

  1. mana nih lanjutan ceritanya??? kok belum di posting, sih.. ayo dong.. lanjutin ceritanya..

Tinggalkan Balasan