Susahnya jadi AKTOR

Maret 26, 2008

SUSAHNYA JADI AKTOR

Jumat malam, pulang dari Pakuwon Trade Center. tampak lelah gak ketahan. Pingin rasanya tidur nyenyak. tetapi keadaannya lain. aku harus meneruskan jalur hidup dengan mencampur adonan jajan. Kebetulan malam itu harus ada 120 biji pastel yang sudah siap diambil besok paginya jam 6. Otomatis harus begadang agar pastel tak basi di tengah jalan. semuanya berjalan dengan lancar. kebetulan TV dirumah sedang asyik-asyiknya menyala. Emak-ku juga asyik pencet-pencet remote dan gak taunya nyanggong di channel bernomor 2. tepat jam 9.30 malam, tayangan di channel itu menampilkan sebuah film yang ternyata di pas-kan dengan tema hari itu juga yaitu paskah. Passion of the christ.

Christ2

film yang sangat kristen banget. Dan dari awal ternyata mripat emak gue jatuh hati dengan film ini. walaupun dari awal emak sudah tau ini film apa, dan bergenre apa. akhirnya, terjadilah perbincanganku dengan emak gue.

Christ01

 

EMAK GUE

Mam, itu orang koq mau-maunya di paku ya?

GUE

(sambil meremas-remas adonan)

Enggak, itu cuman bohong-bohongan!

EMAK GUE

tapi koq ada darahnya…..

mata emak gue menatap miris ketika melihat tokoh utama sedang dipaku di kayu salib.

EMAK GUE(Cont’d)

Coba kamu liat, bener kan ada darahnya!!!

GUE

Ya Allah Maaak!!!! itu tuh cuman bohong-bohongan.

darahnya juga darah bohongan.

palsu….!

EMAK GUE

(Cuek dengan omongan gue)

kasian ya, orang itu…. dibayar berapa ya mau di paku kayak gitu….?

GUE

Maaaaaaaaaaaak!!!! itu cuman film. Bukan beneran!!!

EMAK GUE

(masih tetep cuek)

Pasti mahal tuh bayarannya……

GUE

(meremas erat adonan yang sudah mulai pulen)

iya…..mahal. Karena buat biaya berobatnya juga.

EMAK GUE

(manggut-manggut)

mmmmm….berarti benerkan kalo orang itu bener-bener dipaku!!!

GUE

iya…bener. kalo gak salah orang itu juga bakalan mati.

jadi orang itu gak bakalan nerima bayaran.

aku pikir emak gue bakalan selesai ngomongnya. dan ternyata…

EMAK GUE

(penasaran)

Lha…kalo gitu yang nerima bayarannya siapa entar? emaknya?

sumpah, gue gak mau denger hal itu.

EMAK GUE(Cont’d)

Mam, kamu nggak nyoba jadi artis, bayarannya gedhe kan???

GUE

…%&$#%$#^&

dan dengan berat hati, aku pergi ke kamar mandi. membenamkan kepalaku ke bak mandi dan berteriak……aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaargh!!!!!!!

Dan malam itu aku meneruskan lintingan pastel dengan tangan “berdarah-darah”.


The Djin’s Choice

Maret 14, 2008

The Djin’s Choice 

Gempar, Lingga(37) seorang pedagang emas di pasar tiba-tiba mendapati anaknya Gilang(4) dalam keadaan “disunat”. Mengingat gilang belum disunat semenjak lahir. Sesuai dengan wasiat mendiang ibunya gilang. Bahwa gilang harus disunat ketika sudah duduk dikelas empat SD. Melihat kenyataan bahwa gilang masih umur 4 tahun dan mulai masuk di playgroup, membuat lingga kalang kabut. Gilang-pun ketika ditanya lingga siapa yang telah “memotong pipis”nya, jawabnya hanya “mbah putri…..mbah putri…..” berulang ulang.

Lingga yang sudah ditinggal istrinya sejak 3 tahun yang lalu, tampak kalut. Dia merasa telah mengkhianati wasiat istrinya. Semua merasa hampa bagi lingga. Dia menyalahkan keadaan. Bahkan dia tidak bisa menerima kondisi Gilang saat ini. Namun bagaimanapun juga lingga yang dulunya seorang santri, akhirnya tersadar bahwa kejadian ini ada kaitannya dengan Nenek Gumira(50), yang biasa dipanggil mbah putri oleh gilang. Bagaimanapun juga, nama yang pertama kali disebut oleh gilang adalah nama neneknya.

Lingga pun akhirnya menghubungi sang nenek. Ibu kandungnya. Ternyata nenek Gumira tidak tahu menahu soal kejadian yang menimpa gilang. Akhirnya orang tua Lingga datang ke rumah lingga untuk melihat kondisi gilang.

Ternyata prediksi nenek gumira benar. Bahwa gilang telah di sunat jin. Antara percaya dan tidak percaya, lingga sebenarnya tidak mau menjurus ke dalam situasi seperti itu. Namun pada akhirnya dia pasrah (walaupun dalam hatinya menolak). Sesuai dengan adat jawa, nenek gumira langsung membuat bubur merah dan dibagi-bagikan ke tetangga. Meminta doa dan keselamatan. Pada waktu membuatnya pun sang nenek juga menyelipkan semacam do’a atau orang jaman dahulu menyebutnya mantra. Kakek gumira(55) hanya bisa memeluk Gilang yang sempat terbawa bingung melihat kelakuan ayahnya. Hubungan yang erat antara kakek gumira dan gilang memang sudah terlihat sejak gilang lahir. Sang kakek sangat menyayangi gilang. Sebenarnya pun kakek gumira juga sudah merasakan firasat, namun ia berusaha untuk menutupinya. Bagaimanapun juga tidak ada salahnya jika tiba-tiba gilang ada yang “menyunatnya”.

Lingga akhirnya berusaha untuk menerima keadaannya itu dan mencari titik aman dengan menghubungi guru ngajinya dulu semasa kecil. Yaitu pak Ridwan. Seorang ustadz dan guru ngaji yang seingat Lingga dulu sering menangani hal-hal di luar nalar.

Lingga mencoba mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang kejadian yang dialami anaknya. Ternyata pak ridwan memberikan informasi yang lebih. Melebihi informasi yang diinginkan Lingga.

Bahwa kota tempat lingga tempati adalah merupakan titik temu dan berkumpulnya jin-jin sakti dari berbagai daerah. Terlebih lagi gunung prapen. Kerajaannya para jin. Setiap beberapa tahun sekali selalu ada unjuk kesaktian oleh para jin di daerah keramat itu. Karena jin di daerah tersebut mayoritas islam, maka adu ilmu pun tidak menyalahi aturan islam. Yaitu meng-khitan instan. Dan dari jaman dulu hingga sekarang peristiwa itu masih saja berlangsung. Kenapa yang dipilih adalah anak-anak, karena mereka adalah yang terpilih. Dan sudah ada dalam daftar “perhitungan” mereka. Jadi jangan heran, jika yang mengalami hal seperti gilang lebih dari 5 anak yang menyebar di daerah sini. Semuanya terjadi berturut-turut dan kesemuanya masih anak-anak.

Pak ridwan menjelaskan dengan seksama. Dan menyarankan kepada Lingga agar bisa menerima takdir. Dan semua itu harus disyukuri. Bagaimanapun juga tidak ada yang salah dengan disunat jin.

Pak ridwan juga mengingatkan, kadang ada juga kejadian seorang anak yang sempat disunat jin, namun keesokan harinya mendadak kembali utuh normal. Usut punya usut ternyata si orang tua tidak menginginkan anaknya disunat jin. Dan yang terjadi berikutnya dikemudian hari, sang anak menjadi “terbelakang mental”. Ada yang bilang itu adalah ulah sang jin yang merasa kesaktiannya tidak diakui oleh para jin yang lain. Apabila sang jin yang bersangkutan menyalahkan anak “pilihan”, tak ayal jin tersebut menuntut balas dan bisa jadi si anak itu akan mendapat ‘celaka’.

Bersyukurlah lingga yang menyadari bahwa tindakan ibunya, bisa menyelamatkan gilang. Lingga akhirnya mengambil libur tidak bekerja selama seminggu guna menghabiskan waktu bersama gilang. Dia juga sempat menggelar acara aqiqah buat gilang.

15 hari kemudian.

Tiba-tiba lingga mendapati anaknya sudah tidak ada di playgroup. Padahal lingga bermaksud untuk menjemputnya. Setelah ditanya-tanya kepada beberapa orang yang berada di playgroup, ternyata ada seorang kakek-kakek yang membawa gilang pulang. Sebelumnya gilang meminta guru pembimbingnya untuk diantar pulang. Tetapi tidak diperbolehkan. Lantas gilang menangis, dan disaat itulah ada kakek yang menjemputnya dan mengantar gilang pulang. Dan kelihatannya sang kakek misterius itu kenal dekat dengan gilang.

Mendengar cerita itu, lingga langsung bergegas kerumah kakek gumira. Sesampainya disana, lingga mendapati gilang sudah ada dipelukan kakek yang sudah meninggal dunia beberapa menit yang lalu. Gilang menangis sesenggukan memanggil-manggil nama “mbah kakung”. Lingga lemas. Dan tidak berdaya. Nenek gumira yang baru datang dari pasar pun langsung histeris dan kaget. Karena tidak ada tanda-tanda atau sakit sebelumnya.

Lingga masih bingung dengan kejadian yang dialami gilang sekali lagi. Bagaimana dia bisa sampai rumah kakeknya, siapa yang menjemputnya.

Setelah berkonsultasi dengan pak ridwan. Bahwa rupanya yang menjemput gilang waktu itu adalah roh pelindung kakek gumira. Yang menyamar menjadi kakek gumira. Adapun tujuannya menjemput gilang adalah karena itu adalah keinginan kakek gumira sendiri menjelang ajalnya untuk bertemu gilang yang ke-terakhir kalinya. Dan sekalian menyerahkan roh pelindung yang selama ini menyertai kakek gumira ke gilang. Lingga hanya bisa pasrah. Dan berdoa semoga keselamatan dan kebahagiaan selalu menyertai dia dan keluarganya.


Maaf, Saya Tidak Akan Menghamilimu Lagi!

Maret 8, 2008

Maaf, saya tidak akan menghamilimu lagi!

Sebuah skenario film pendek

FADE IN

Sc.01 INT. HUTAN – SIANG

BARGOWO (45) melihat ke atas mencari-cari monyet yang diinginkannya. Sementara WITO (48), sang anak buah membuntutuinya dari belakang sambil membawa kerangkeng kecil yang masih kosong.

Muncul tulisan (SUBTITLE):

Hutan Merawan, Jember.

Senin, 13 Maret 2000.

13.13 WIB

BARGOWO

(memandang ke atas)

Wit!! Kalo begini ceritanya, sampai kiamatpun kita nggak bakalan dapat-dapat.

WITO

(gugup)

lha bagaimana lagi bos! Lha wong nyari monyet pinter saja mesti harus telaten, apalagi ini!

wito memungut sebatang ranting kecil di sampingnya.

BARGOWO

Ya lihat saja wit, mungkin kelakuannya berbeda dari monyet yang biasanya.

WITO

(menggigit ujung ranting)

Kelakuan yang bagaimana bos?!

BARGOWO

Ya…..yang ga biasanya. Mungkin kalo yang normal makannya daun ato biji-bijian, bisa jadi yang idiot ini makannya kayu ato bisa jadi batu.

WITO

Tahu dari mana bos, kalo monyet idiot makannya kayu?

Bargowo memandang wito yang mulai asyik menemukan ranting kayu yang mulai di kunyahnya. Kemudian wito sadar kalau dirinya terlihat seperti memakan kayu.

Bargowo melihat-lihat atas pepohonan yang sepi tidak ada monyetnya sama sekali. Wito turut mengamati dan tampak serius.

WITO

(serius)

Bukannya saya nggak yakin, cuman koq nggak sreeg aja ya bos!

BARGOWO

Sudahlah!!! Monyet bukan tuhan, dan kamu nggak perlu repot-repot untuk meyakininya.

WITO

Tapi bos?!

FADE TO BLACK

Sc.02 INT. HUTAN – SIANG

MONTAGE – seisi hutan, semut berbaris, rusa memamah rumput, ular bergelantungan di dahan besar, burung-burung berkicau bersahutan hingga monyet-monyet yang bergelayutan. (suara tabuhan genderang seperti di film tarzan) Yang melatar-belakangi CREDIT TITLE. Sampai penyebutan nama sutradara

FADE OUT / FADE IN

Sc.03 INT. HUTAN – SIANG

Bargowo dan wito duduk-duduk di bawah pohon besar. Keduanya tampak kelelahan.

WITO

Kayaknya nggak ada bos!

Bargowo mengangguk pelan.

WITO

(Cont’d)

tapi apa nggak bisa diakali bos?!

Bargowo menatap wito seakan menunggu keterangan selanjutnya dari wito.

WITO

(Cont’d)

begini bos. Bos kan tau sendiri, nyonya tuh orangnya kayak gimana.

BARGOWO

Maksudmu wit?!!

WITO

Sorry ya bos, bukannya menghina nyonya, apa benar, nyonya bisa membedakan mana monyet yang normal dan yang idiot?

Bargowo mengernyitkan dahi

(Cont.d)

Lha wong bos yang sarjana bingung, apalagi nyonya yang….

Wito menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum nyindir.

Bargowo memegang kerangkeng lalu mengangkatnya.

BARGOWO

Wit! Kalau caranya begitu, kenapa juga saya mesti jauh-jauh datang kemari, lebih baik berburu di pasar gelap. Pasti dapatnya. Yang idiot mungkin banyak. Kayak kamu.

WITO

Bos bisa saja!

Bargowo melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 2. wito ikut melihatnya.

WITO

Ada apa bos?

BARGOWO

Nggak ada cara lain wit! Kalo begini terus, ntar kita yang dianggapnya monyet idiot. Kalo kamu sih nggak masalah.

WITO

(sedikit kesal)

sekarang kita kemana?

Bargowo menyerahkan kerangkeng pada wito. Keduanya beranjak berdiri dan meninggalkan hutan itu.

(Point of View BURUNG YANG BERTENGGER DI POHON YANG TINGGI) – ZOOM OUT: bargowo dan wito berjalan meninggalkan hutan.

BARGOWO (VO)

Kita makan dulu.

WITO (VO)

Memangnya disini ada yang buka warung bos?

Bargowo diam tak menjawab. Wito membuntuti bargowo yang berjalan cepat sambil tergopoh-gopoh karena membawa beban yang cukup banyak.

WITO (VO)

kita kemana sih bos?

Bargowo tetap diam tak memberi respon.

WITO (VO)

Bos marah ya??

Wito mencoba untuk membalap laju jalannya bargowo untuk bisa melihat wajahnya bargowo, namun tidak bisa karena kalah cepat.

Hingga tak sadar wito jatuh tersungkur. Barang-barang yang di bawanya berhamburan ke udara.

Bargowo semakin mempercepat langkahnya.

Wito memungut kembali barang bawaannya.

WITO (VO)

Bos tunggu bos!!

Bargowo menoleh ke arah wito sepintas. Kemudian ia menghilang di balik semak-semak.

WITO (VO)

(berteriak)

BOOOOOOSSS!!!!!!!!!

FADE TO

Sc.04 EXT. TERAS RUMAH BARGOWO – SORE

ASTRID (30) memandangi seekor makhluk berbulu di dalam sangkar. Sesekali monyet itu menjerit-jerit. Hingga lama kelamaan diam dengan sendirinya. Astrid semakin tajam menatap mata monyet itu. Sangat dekat

(CU. Mata astrid yang terperangah heran)

bargowo hanya bisa melihat ulah istrinya dari belakang. Sementara si wito hanya bisa melongo.

Astrid melambaikan tangannya ke bargowo seraya untuk segera mendekatinya.

Bargowo berdiri di samping astrid

BARGOWO

(berbisik)

ada apa?

ASTRID

(berbisik dan tetap fokus pada monyet)

Kamu yakin?

BARGOWO

(berbisik dan setengah gugup)

iya.. aku yakin. Kenapa?!

Dari jauh wito menyorongkan kepalanya kepingin tahu apa yang dibicarakan.

ASTRID

(berbisik sambil mengernyitkan dahi)

Aku koq nggak begitu yakin!

Wito menutup mulutnya. Seakan-akan dia pernah mengucapkan kalimat itu.

BARGOWO

(berbisik+meremas-remas tangannya)

bener koq, ini sama seperti yang kamu mau.

Astrid mundur perlahan kebelakang. Di ikuti bargowo.

BARGOWO

Apa kamu nggak takut ada apa-apa dengan bayimu nanti?

Bargowo memeluk astrid dari belakang sambil mengelus perut astrid yang membuncit.

Astrid geleng-geleng kepala.

ASTRID

Justru kalo ini nggak kamu turuti, mungkin aku takut terjadi apa-apa pada bayiku.

Astrid mengelus perutnya bersama dengan bargowo.

WITO

Ehem!! Kayaknya semua urusan sudah selesai. Jadi saya pergi dulu. Kalo ada apa-apa…

BARGOWO

(tersinggung)

ya sudah, pergi sana.

Bargowo mengusir wito

BARGOWO

(Cont’d)

sekalian kamu suruh Aji untuk kirim barang secepatnya. Stok-nya sudah hampir habis.

Wito tak menjawab. Hanya berlalu begitu saja dan menuju ke mobil sedan yang diparkir di garasi.

BARGOWO

Setelah ini monyetnya diapakan?

ASTRID

Terserahlah. Dilepas juga nggak apa-apa. Tapi jangan dilepas di sini.

BARGOWO

Kalo boleh tahu, maksudnya kamu menyuruh aku nyari monyet idiot ini sebenarnya untuk apa?

Astrid mengangkat bahunya. Dengan kemudian bargowo melepas pelukannya dan membalikkan badan astrid.

BARGOWO

(heran+meniru mengangkat bahu)

maksudnya apa begini?

Bargowo menirukan astrid yang mengangkat bahunya.

ASTRID

Ya nggak tahu.

BARGOWO

Setidaknya kan ada alasannya?!!

ASTRID

Tapi kalo aku nggak tahu, masak di paksa harus tahu!

BARGOWO

(sedikit keras)

Bukan gitu. Maksud aku, dari mana kamu bisa-bisanya kepikiran untuk menyuruh aku mencari monyet! Harus idiot pula!!

Astrid menunduk.

Bargowo lantas memeluk astrid tak tega karena telah berbicara keras padanya.

BARGOWO

(lirih)

maafkan aku!

ASTRID

Sebenarnya semua ini terlintas begitu saja. tidak ada maksud apa-apa.

Bargowo semakin erat memeluk astrid sambil membelai rambut astrid yang panjang.

ASTRID

Tapi ada satu hal yang membuat aku bingung sampai detik ini. Dari mana kamu tahu kalau monyet itu idiot?

Bargowo kebingungan menjawabnya. Hanya bisa memandangi monyet idiot yang lompat-lompat di dalam sangkar.

FADE OUT.

Sc. 05 EXT. TEMPAT PARKIR SUATU MALL – DAWN

Muncul tulisan (Subtitle):

2 tahun kemudian

CUT / DISSOLVE TO:

Sc. 06 INT. MOBIL SEDAN – DAWN

(point of view bargowo) Wito berjalan terburu-buru keluar dari mall sambil membawa bungkusan tas belanjaan. Dan segera masuk ke dalam mobil.

WITO

(nafas tersengal-sengal)

semuanya beres! Tapi…saya nggak bisa membayangkan, seperti apa tampang bos nantinya?

Wito merasa sangsi. Sementara bargowo melihat-lihat isi bungkusan.

BARGOWO

CD lagunya?

WITO

(menepuk keningnya)

waduh bos!! Saya lupa!

Wito keluar mobil. Belum sempat keluar, bargowo sudah memeganginya.

BARGOWO

Nggak perlu wit! Kayaknya CD ini sudah cukup.

Bargowo memilah-milah CD koleksi wito di laci dashboard, dan mengambil CD album disko dangdut.

Wito masuk ke mobil dan menutup pintu.

WITO

Ya sudah bos kalau begitu.

Wito mulai menjalankan mobilnya.

WITO

Bos! Saya jadi penasaran kepingin melihatnya.

Bargowo hanya menatap tajam wito penuh ancaman.

(Ext. Tempat Parkir Suatu Mall). ZOOM OUT: Mobil bargowo melaju dan meninggalkan tempat itu. Di selingi tawa dari Wito yang menggoda bos-nya.

FADE TO

Sc. 07 EXT. TERAS RUMAH BARGOWO – DAWN

Mobil terparkir di pinggir jalan. Wito mengusung barang belanjaan ke dalam rumah. Selesai mengusung, wito keluar rumah sambil menggendong MITHA (2)(yang diketahui anak dari bargowo dan astrid) yang menempel erat. Sementara bargowo dan astrid membuntutinya dari belakang.

Astrid mencium kening mitha saat berada di depan pagar rumah. Namun saat bargowo hendak mencium, tangan mitha langsung menonjok wajah ayahnya keras. Hingga sontak Bargowo kaget kesakitan. Mitha tertawa. Di sambung wito. Di tambahi astrid. Dengan kesal bargowo “mengusir” tangan kanan dan anaknya.

Wito menuju ke mobil dan segera berlalu. Bargowo dan astrid masuk kedalam rumah.

CUT TO

Sc. 08 EXT/INT. RUMAH BARGOWO – MALAM

CAMERA MOVEMENT FOLLOWING SUBJECT - Bargowo memasang gembok pada pagar rumah. Kemudian masuk rumah mengunci pintu serta jendela dan menutup semua tirai. Sehingga jalan keluar-masuk rumah dalam keadaan terkunci.

MOVE TO: Astrid berpapasan dengan bargowo lantas menyerahkan bungkusan padanya.

CLOSE SHOT: Astrid mengelus perutnya.

MOVE TO: bargowo kesal dan segera masuk ke dalam kamar. Diikuti astrid dari belakang. Dan belum sempat masuk, pintu kamar sudah ditutup.

ASTRID

Ya sudah! Kutunggu di ruang tamu!!

Bargowo tidak menjawab.

FADE TO BLACK.

Sc. 09 INT. RUANG TENGAH – MALAM

Alunan lagu disko dangdut menghiasi seisi ruangan (melatari selama scene ini). Astrid meletakkan segelas es jus jeruk di meja tamu. Kemudian duduk di Sebuah sofa yang panjang. Sesekali mencoba mencari posisi yang nyaman.

Astrid beranjak dari duduknya dan menuju ke alat pemutar cd untuk mengeraskan volume-nya. Dirasa pas, astrid kembali ke duduk di sofa. Mencoba meraih majalah yang ada di meja. Namun segera-nya di kembalikan lagi.

Hendak mengambil gelas, tiba-tiba astrid menjerit setelah melihat seseorang berdiri di sudut ruang.

MOVE TO: Bargowo menggunakan kostum dari kulit berwarna hitam mengkilat. Seperti yang biasa dijumpai di film-film porno bergenre hardcore. Bargowo tampak malu-malu namun sedikit percaya diri. Bargowo lantas menuju meja tempat astrid menaruh gelas.

Dengan refleks astrid langsung mengambil gelas jus-nya dan kemudian menyapu semua benda yang berada di atas meja hingga berserakan ke lantai.

Bargowo berdiri di atas meja sambil sesekali meringis malu.

ASTRID

Goyangnya mana?

Bargowo pelan-pelan menggoyangkan pinggulnya. Tampak kaku dan dipaksakan.

MOVE TO: Astrid menyiul dengan menggunakan tangan kanan, sementara tangan kirinya mengelus perutnya yang buncit.

ASTRID

(berteriak)

I LOVE YOU!!!

CUT TO:

Sc. 10 EXT. RUMAH BARGOWO – MALAM

Siluet seseorang (yang pada akhirnya diketahui sebagai PATREM(60) mertua bargowo) berdiri di luar depan pagar.

EXTREME CLOSE UP: sebuah tangan yang mengeluarkan beberapa kunci yang ditali menjadi satu. Memilah-milah kunci dan mendapatkan satu kunci. Kemudian tangan itu meraba-raba gembok pagar dan memasukkan kunci.

CUT TO:

Sc. 11 INT. RUANG TENGAH – MALAM

Masih dengan sound-latar musik disko dangdut. Bargowo sudah tidak risih dan malu. Astrid menyoraki suaminya. Bargowo sudah tidak terlihat kaku lagi.

ASTRID

(keras)

Mana janjinya?!!

Bargowo memberi isyarat jempol pada astrid tanda menyetujuinya.

CUT TO:

Sc. 12 EXT. RUMAH BARGOWO – MALAM

Siluet seseorang berjalan setapak menuju ke pintu rumah.

EXTREME CLOSE UP: langkah kaki yang rapuh tapi tegas.

CUT TO:

Sc. 13 INT. RUANG TENGAH – MALAM

Masih dengan sound-latar musik disko dangdut. Bargowo melepaskan rangkaian kulit hitam yang membalut badannya. Hingga tersisa celana dalam kulit serta asesoris yang membungkus lutut serta kedua kakinya. Sesekali astrid menepuk bokong bargowo. Bargowo membalas dengan mimik wajah kaget yang dibuat-buat hingga terkesan binal.

Sc. 14 EXT. RUMAH BARGOWO – MALAM

EXTREME CLOSE UP: langkah kaki yang rapuh tapi tegas itu akhirnya sampai didepan pintu.

EXTREME CLOSE UP: tangan yang mencoba membuka pintu, namun tidak bisa. Lantas hendak mengambil kunci dari dalam tas, namun tidak jadi.

CLOSE UP: kali ini hanya kepalanya saja yang tidak terlihat, sehingga jelas bahwa seseorang itu adalah seorang wanita yang kemungkinan di atas 50 tahun. Wanita itu berjalan mengitari rumah dan menuju ke halaman belakang. Maksudnya lewat pintu belakang.

CUT TO:

Sc. 15 INT. RUANG TENGAH – MALAM

Masih dengan sound-latar musik disko dangdut. Bargowo meminta gelas yang dibawa astrid kemudian menyiramkannya ke tubuhnya. Astrid melihatnya gemas sambil teriak-teriak.

CUT TO:

Sc. 16 EXT/INT. RUMAH BARGOWO – MALAM

CAMERA MOVEMENT FOLLOWING SUBJECT – sekarang seseorang itu tampak keseluruhan namun dari punggungnya saja. seorang wanita tua yang kelihatannya masih mengikuti mode dan modern look-like. Menuju ke pintu. Mengeluarkan kunci pintu belakang. Kemudian membuka pintunya.

EXTREME CLOSE UP: tangan wanita itu membuka gagang pintu.

CUT TO:

Sc. 17 INT. RUANG TENGAH – MALAM

Masih dengan sound-latar musik disko dangdut. Angle-camera di belakang astrid, sehingga bagian vital bargowo terhalang. Tampak bargowo melepas celana dalamnya. Astrid berteriak histeris.

MOVE TO: Angle-camera di belakang bargowo, tampak punggung bargowo yang basah meliuk-liuk dangdut dengan disaksikan astrid didepannya. Bargowo memutar-mutarkan celana dalamnya ke atas seperti cowboy.

CUT TO:

Sc. 18 INT. RUMAH BARGOWO – MALAM

CAMERA MOVEMENT FOLLOWING SUBJECT – wanita itu menutup pintu kemudian menyusuri lorong di dalam rumah. Sesekali menutup telinganya(samar-samar bunyi suara lagu disko dangdut mulai terdengar). Wanita itu dengan tanpa beban langsung ngelonyor ke ruang tengah ke sumber suara berasal.

CUT TO:

Sc. 19 INT. RUANG TENGAH – MALAM

Masih dengan sound-latar musik disko dangdut. Badan bargowo terhalang sofa tempat astrid duduk. Hanya tampak bagian pusar keatas.

MOVE TO:

CLOSE UP: wajah astrid yang tertawa girang.

dan tanpa sengaja dia menoleh ke arah kiri dan langsung terdiam

MOVE TO: Bargowo yang heran melihat astrid, spontan ikut melihat apa yang di lihat astrid. Dan akhirnya secara perlahan bargowo menghentikan goyangannya.

MOVE TO: Di sudut ruangan. Patrem berdiri terdiam. Dan melongo. Tas yang sedari tadi di bawanya terjatuh.

CAMERA MOVEMENT FOLLOWING OBJECT langkah patrem yang lunglai ke belakang camera BLURRED yang akhirnya roboh ke belakang pingsan.

FADE TO BLACK

BLACK FRAME masih dengan sound-latar musik disko dangdut. 30 detik kemudian berhenti.

DISSOLVED TO: astrid dan bargowo membangunkan patrem di atas sofa.

BARGOWO

(Pada astrid)

Ibumu nggak apa-apa??

ASTRID

Nggak tahu.

BARGOWO

Terus bagaimana?

ASTRID

(menggoyangkan wajah patrem)

Bu, bangun bu!!!

BARGOWO

(memotong)

bu, sadar bu!

Tampak patrem sedikit tersadar.

ASTRID

Bu! Jangan diam saja bu. Katakan sesuatu!

Patrem mulai sadar.

ASTRID(Cont’d)

Katakan sesuatu bu!

PATREM

(lemas)

Sesuatu.

Astrid dan bargowo saling memandang, dan tersenyum. Saat itu juga patrem menatap bargowo dan segera mencakar-cakar wajahnya.

PATREM

(brutal+membentak)

Lain kali kalau ibu ngelihat kamu gondal-gandul lagi, tak iris-iris.

Bargowo kesulitan menahan aksi mertuanya yang kalap. Sementara astrid mencoba menenangkan ibunya.

FADE TO BLACK:

Sc. 20 INT/EXT. TK TUNAS BANGSA – PAGI

Di dalam kelas, tampak keributan normalnya anak TK. SALMA(37) bu guru yang menjadi wali kelas itu tampak sibuk menulis di papan tulis, seakan sudah kebal dengan murid-muridnya yang rame.

Muncul tulisan (SUBTITLE):

TK TUNAS BANGSA, SURABAYA.

KAMIS, 20 September 2007.

09.45 WIB.

Beberapa detik kemudian ada WATI(30),guru lain yang menghampirinya dengan tergesa-gesa dan sepertinya mengabarkan salma untuk segera meninggalkan kelas karena ada semacam rapat dadakan yang dibicarakan dengan kepala sekolah. Dan wati yang menggantikan posisinya.

Selama percakapan kedua guru(hanya adegan dialog tanpa suara) terdengar jeritan-jeritan dan tangisan dari anak-anak perempuan. Sementara yang laki-laki ada yang tertawa

CLOSE UP: wati menoleh ke arah sumber suara dan seketika juga ekspresi wajahnya berubah kaget.

WATI

(gugup berusaha tenang)

Ya sudah bu! Ibu sebaiknya segera menuju ke ruang kepala sekolah saja. sudah ditunggu dari tadi.

SALMA

Baiklah.

Salma tampak menuding seseorang.

SALMA(Cont’d)

Amankan biang keroknya bu!

Wati mengangguk dan membiarkan salma meninggalkan ruang itu.

CAMERA MOVEMENT FOLLOWING SUBJECT – wati menghampiri sumber suara jerit dan tangis itu.

MOVE TO: BUGI(5)(yang akhirnya diketahui anak dari bargowo dan astrid)memelorotkan celananya dan memamerkan “isi”nya kepada semua murid wanita. Yang mengakibatkan semua murid perempuan bergerombol di sudut ruang dengan jerit dan tangis ketakutan.

Sesaat sebelum wati mengamankan bugi, ada seorang pria(yang ternyata bargowo) yang tiba-tiba nyelonong masuk

(Selama dialog jerit dan tangis masih menggema)

 

BARGOWO

Permisi bu!

Wati sempat kaget, dan segera berbalik.

WATI

Ada apa pak?

BARGOWO

Anu bu! Mau…!!

WATI

(mencuri pandangan ke arah bugi)

Iya pak! Ada apa?

Bargowo menatap bugi seakan-akan gemas dan malu.

BARGOWO

(menunjuk bugi)

itu…..

wati bingung dengan sikap bargowo.

WATI

Kenapa pak dengan dia?

Bargowo pelan-pelan menghampiri bugi yang masih asyik dengan atraksinya. Sambil menunjuk-nunjuk bugi.

Wati ikut menghampiri bugi.

WATI

(keras+pada bugi)

hei! Anak nakal!

Bugi tidak mempedulikannya bahkan malah tertawa.

BARGOWO

Bugi!!

Bugi lantas menoleh ke arah bapaknya.

WATI

Jadi ini anak bapak?

Bargowo menangkap bugi dan dengan segera membenarkan posisi celana bugi.

BARGOWO

Iya bu! Maaf!

WATI

Jadi anda bapaknya?!!

BARGOWO

(mengangguk+malu)

iya.

Dengan insting guru, Wati lantas segera memerintahkan anak-anak perempuan untuk kembali ke tempat duduknya masing-masing.

BARGOWO

Maaf bu, sebenarnya saya kesini mau menjemput dia, karena ada keperluan keluarga.

Wati mengatur kursi dan bangku.

BARGOWO(Cont’d)

Jadi saya minta izin untuk membawa bugi pulang

Wati kembali fokus pada bargowo.

WATI

Ooh. Baik pak. Silahkan. Nanti saya sampaikan pada bu salma.

Bargowo menggandeng tangan bugi.

BARGOWO

Terima kasih bu! Permisi.

Wati mengangguk dan kemudian bargowo meninggalkan kelas.

CAMERA MOVEMENT FOLLOWING SUBJECTS – bargowo yang menggandeng bugi berjalan dengan tergesa-gesa. Menyusuri koridor-koridor hingga akhirnya sampai keluar sekolah dan menujupinggir jalan hendak menyeberang. Bargowo kemudian menggendong bugi.

(Point of View MOBIL) bargowo menyeberang jalan menuju ke tempat sebuah mobil yang di parkir di seberang.

Bargowo membuka pintu mobil untuk bugi dan kemudian dia sendiri masuk ke mobil dan segera meninggalkan tempat itu dengan tancap gas.

CUT TO:

Sc. 21 EXT: SLB HARAPAN ANDA – PAGI

Wito berdiri didepan pagar dengan menggandeng tangan Mitha(7). Mitha menyingkap-nyingkap roknya, melompat-lompat, geleng-geleng kepala. Dan menyanyikan lagu aneh.

MITHA

(nada tidak jelas)

Ting-ting pa-pa

Selama scene ini, mitha terus bernyanyi ting-ting pa-pa

Wito berdiri menunggu seseorang tampak badannya bergerak akibat hentakan mitha yang asyik melompat-lompat sambil “bernyanyi”.

(POV wito) sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat wito berdiri.

Wito dan mitha segera menghampiri mobil itu. Bargowo keluar dari mobil dan segera menggandeng tangan mitha lalu menuntunnya masuk ke mobil di kursi tengah. Secara bersamaan, wito mengambil alih posisi mengemudi.

(POV seseorang)Kemudian mobil berjalan meninggalkan sekolah itu.

FADE TO

Sc. 22 EXT.ROOFTOP RUMAH BARGOWO – PAGI

CAMERA MOVEMENT Tampak jemuran yang menghiasi tempat itu melambai-lambai tertiup angin. Menyibak-nyibak pakaian yang dijemur, ada pakaian anak, selimut, sprei putih, baju dewasa dll…. hingga pada sibakan terakhir…

EXTREME CLOSE UP: mata astrid yang terpejam, rambutnya sudah tidak panjang lagi, model demi moore di film ghost.

ZOOM OUT :P osisi duduk mengangkang dikursi dengan perutnya yang sekali lagi membuncit. Di tangan kanan memegang sebilah pisau dapur sementara tangan kirinya memegang henfon.

Sesekali astrid melihat henfon-nya. Jam menunjukkan pukul 11.00, dan tak ada reaksi nada panggil ataupun SMS, astrid memejamkan matanya lagi.

CUT TO:

Sc. 23 INT. MOBIL BERJALAN DI JALAN RAYA – SIANG

Bargowo dan wito tampak tegang. Sementara mitha masih asyik menyanyikan “ting-ting Pa-pa”, dan bugi berdiri di atas kursi sambil menelanjangi diri dan menempelkan kemaluannya ke jendela yang tertutup.

Bargowo tidak mempedulikan anak-anaknya.

BARGOWO

Wit! Bisa lebih cepat.

WITO

(gugup)

lebih cepat ke kuburan atao ke rumah sakit?!

BARGOWO

(tegas)

OJO GUYON!!

WITO

Maaf bos!

Bargowo menelpon seseorang di henfon-nya.

BARGOWO

Halloo!

Bagaimana, sudah jadi?

FADE TO

Sc. 24 EXT.ROOFTOP RUMAH BARGOWO – PAGI

Astrid berkeringat. Sesekali dia mengusapnya. Matanya masih dalam keadaan terpejam.

Di lihat henfon-nya. Tak ada reaksi apapun.

FADE TO

Sc. 25 EXT.ROOFTOP RUMAH BARGOWO – SIANG

Astrid memakai penutup kepala sprei putih dari jemuran yang sudah kering. Kemudian ia melihat jam di henfon

EXTREME CLOSE UP: henfon yang layarnya menunjukkan jam digital pukul 12.30

Astrid hendak menghubungi nomor seseorang lewat henfon namun tidak jadi.

MOVE TO: sinar matahari yang silau.

CUT TO:

Sc. 26 EXT. RUMAH MAKAN WONG JOWO – SIANG

Sinar matahari yang silau.

MOVE TO: wito yang keluar tergesa-gesa dari rumah makan sambil membawa bungkusan kresek warna hitam. Langsung menuju ke mobil yang terparkir di seberang jalan.

(POV Wito) bargowo sedang bercakap-cakap serius dengan seseorang lewat henfon

(POV seseorang dari seberang jalan) bargowo menutup henfon-nya dan berbicara dengan wito singkat. Kemudian langsung segera meninggalkan tempat itu.

FADE OUT.

Sc. 27 EXT.ROOFTOP RUMAH BARGOWO – SIANG

Astrid membuka penutup kepalanya. Kemudian berdiri dari duduknya. Berjalan ke tepi atap. Melihat-lihat di bawah.

(POV Astrid) tampak dari jauh mobil bargowo berjalan menuju ke rumah)

astrid langsung segera duduk di kursinya semula. Memasukkan henfon kedalam kantong bajunya. Kemudian memposisikan dirinya seolah-olah hendak menusuk perutnya dengan kedua tangannya dengan sebilah pisau dapur yang bersilau oleh pantulan sinar matahari.

CUT TO:

Sc. 28 EXT/INT. RUMAH BARGOWO – SIANG

Keluar dari mobil, Bargowo menggendong bugi, wito menggendong mitha. keduanya berlarian masuk ke rumah. Menyusuri ruang, menaiki tangga dan sampai akhirnya hendak menuju ke rooftop.

Sc. 29 EXT.ROOFTOP RUMAH BARGOWO – SIANG

(POV astrid) pintu terbuka tampak bargowo yang ngos-ngosan begitu juga dengan wito yang lebih ngos-ngosan karena perut gendutnya. Keluar dari pintu. Keduanya menurunkan gendongannya.

Kedua anak itu tampak tak acuh dengan sikap mamanya.

Bargowo mendekat ke astrid, sementara wito mendekap mitha dan bugi agar tidak lari atau melakukan hal-hal yang tidak perlu.

(POV astrid) bargowo mendekati astrid

BARGOWO

(menyodorkan bungkusan kresek)

ini. sesuai yang kamu minta.

MOVE TO: bungkusan kresek

(POV astrid) bargowo menyerahkan bungkusan itu ke astrid. Astrid mencium bungkusan kresek itu

(POV bargowo) astrid menempelkan kresek itu ke hidungnya dan membaui-nya. Astrid ragu-ragu.

ASTRID

(menempelkan pisaunya ke perut)

kamu mundur dulu!!

Bargowo mundur ke belakang. Hingga mendekati tempat wito berlutut.

Astrid membuka kresek itu dan mengeluarkan sebuah buntalan daun pisang mirip pepes yang dipanggang.

MOVE TO: wito yang terus memegangi mitha dan bugi.

ASTRID(OS)

Jangan coba-coba menipuku.

Wito dan bargowo menggelengkan kepalanya tanpa disengaja secara bersamaan.

Astrid melempar kresek itu dan membuka pepes.

CLOSE UP: tangan astrid membuka benda yang memang ternyata pepes. tampak sebuah pepes ikan gurami yang berbalur daun dan bumbu. Astrid menempelkan pepes itu ke hidungnya. Sedikit tersenyum wajah astrid. Namun kembali tegang. Tangannya kemudian memilah daun-daun yang menjadi campuran pepes itu. Diperiksanya daun-daun itu. Di telitinya dengan seksama. Di dekatkan pas didepan matanya. Dengan sedikit penasaran. Di cicipnya daun itu. Di jilat tidak terasa apa-apa.

MOVE TO: wito memejamkan matanya tidak tahan melihat pemandangan itu.

ASTRID

Ini asli dari aceh kan?!

Bargowo mengangguk.

BARGOWO

(tegas)

mungkin bila polisi datang kemari menggeledah rumah ini…

astrid masih penasaran dengan daun itu.

BARGOWO(OS)

(Cont’d)

kamu semestinya harus percaya.

(Cont’d)

tapi jangan harap mereka datang kemari

MOVE TO: Astrid memakan daun itu. SLOW MOTION – Dikunyahnya perlahan. Perlahan.

Dan tiba-tiba diludahkan.

CLOSE UP: bargowo kaget dan sedikit gugup.

BARGOWO

Kenapa??

(POV bargowo) astrid terdiam. Kemudian membuang pepes itu hingga berhamburan ke lantai.

Wito bingung ketakutan melihat astrid dan bingung menatap bargowo.

WITO

(takut)

Bos!

(POV bargowo)astrid tersenyum, bargowo mendekati astrid pelan-pelan.

BARGOWO(OS)

(bingung)

Ada apa?

Senyum astrid makin mengembang. Astrid berdiri dan kemudian langsung beranjak berdiri dan merangkul bargowo.

Bargowo bingung tapi menerima pelukan istrinya dengan bahagia. Bargowo mendekap astrid erat.

MOVE TO: wito takut-takut untuk tersenyum, namun pada akhirnya bisa tertawa dan mengelus kedua anak disampingnya.

ASTRID

Ngidam kali ini sangat berkesan!

Masih berpelukan, tampak bargowo kesal tapi ditahan dengan tersenyum.

ASTRID(Cont’d)

Aku harap lain kali ngidamnya lebih dari ini.

Di balik pelukannya, bargowo kaget dengan ucapan astrid

EXTREME CLOSE UP: mata bargowo yang membelalak kaget seakan-akan tidak terima dengan keinginan astrid.

PULL BACK

FADE TO BLACK

BLACK FRAME

Muncul tulisan (SUBTITLE):

Beberapa tahun kemudian

ASTRID(OS)

Aku tadi habis belanja baju sama sepatu buat anak-anak. Sekalian mampir ke dokter Ryan.

(Cont’d)

katanya aku POSITIF!

Tidak ada bunyi apa-apa selang waktu 11 detik.

Lalu terdengar bunyi laci dibuka dan kemudian terdengar bunyi suara tembakan “DORR!”

Muncul rolling title

Gresik, 20 September 2007(1ST draft)

Imam Wahyudi


Maret 8, 2008

SUMPAH SERAPAH

Di tahun 2259 yang serba Hi-Tech. Tiga mahasiswa dari universitas Oxvard, melakukan teleportasi ruang dan waktu ke masa lampau. Untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah. Karena mereka dituduh dinas Intelejensi Maju Mundur (IMM) telah melakukan pembunuhan pada seorang jendral.

Wonder 991Z (19), Kina 76X (20) dan Lessel 31CS (20) tanpa sepengetahuan pihak laboratorium kampus, mencoba membuka portal mesin waktu yang kebetulan sudah tidak terpakai. Lantaran sudah ada keluaran generasi kedua, dimana cara kerjanya berprinsip pada emulsi gerak dan neurobrain lalat.

Berhubung ada yang harus menjaga dan mengoperasikan benda itu, maka lessel yang bertugas. Kebetulan lessel pernah mengambil kelas abnormal teleportation. Kina dan wonder menuju ke masa depan untuk mencari tahu, kapan mereka melakukan pembunuhan tersebut. Padahal ada UU yang melarang untuk tidak melakukan teleportasi ke masa depan.

Kembali dari masa depan, wonder membawa sebuah sobekan kertas yang tertulis surabaya, 10 november 1945 vw kodok. Kina 76X tertangkap. Wonder pun segera memerintahkan lessel untuk mengirimnya ke waktu dan tempat yang tertera dalam sobekan kertas tadi.

10 November 1945, ternyata terjadi perang. Wonder mendarat di sebuah hotel. Wajahnya yang eurasia, tidak membuat penghuni hotel lain curiga. Kebetulan Wonder menemukan sepasang kemeja coklat mirip seragam perang. Wonder menyusup ke garasi. Disana ia melihat mobil yang mirip dengan apa yang ia bayangkan. Wonder masuk ke mobil setelah melihat rombongan yang bergegas menuju ke garasi.

Dengan spontan, Wonder duduk di bangku sopir. Secara kebetulan kunci kontak sudah menempel. Seorang pria dengan seragam berpangkat jendral masuk ke mobil itu dan memerintahkannya untuk berjalan.

Dengan kecepatan 10 Km/jam, sang jendral itu memantau perang yang sedang berlangsung. Namun sebuah peristiwa tak terduga terjadi, sebuah granat masuk dari celah jendela yang sedikit terbuka. Rupanya Wonder tidak menyadari hal itu. Begitu juga dengan sang jendral.

0.01 detik sebelum meledak, dengan refleknya, Wonder mengisyaratkan kepada lessel untuk segera menteleportasikan dirinya. Dan berhasil.

Lessel berhasil membawa Wonder kembali ke masanya. Namun kemudian mendadak lenyap tak berbekas. Dan akhirnya aksi lessel diketahui pihak IMM. Lessel dan Kina baru menyadari bahwa sebenarnya Wonder adalah keturunan ke 17 dari seorang jendral yang bersama Wonder beberapa waktu lalu. Dan sebenarnya tuduhan IMM bukan mengarah pada kematian sang jendral, namun terlebih pada penegasan pada sejarah itu sendiri. Ditangkapnya Kina karena memang seperti itu prosedur yang harus terjadi. Lessel dan kina bebas bersyarat. Terciptalah wonder crime, dimana sebuah aksi kejahatan tanpa dijatuhi hukuman, karena terdakwa sudah dinyatakan “tidak pernah ada”.

Sejarah hanya untuk dipelajari bukan untuk dirubah.

 

6 September ‘07


Sepotong Nista di Lembah Cardwood

Maret 8, 2008

SEPOTONG NISTA DI LEMBAH CARDWOOD

Wajar saja hatinya keluh. Bila sepanjang hidupnya hanya di isi dengan berjuta rintih. Irene (28) hanya bisa duduk memandang redupnya malam yang tak diikhlasi bulan untuk seberkas sinarnya. Di lembah Cardwood, sila terlahir sebagai yatim piatu sejak berusia 5 tahun. Dengan didikan dari nenek Rose, irene menjadi gadis yang santun dan serba tertuntun. Tak ada satupun langkah yang asli darinya. Semua murni dari mulut neneknya. Irene hanya pelaksana. Dan sepertinya akan tetap seperti itu selamanya. Irene tak mengeluh dengan kesah neneknya. Janji irene mungkin satu, sebuah pengabdian penuh, layaknya balas jasa masa kecilnya dulu.

Nenek rose merapuh di kursi roda. Irene masih saja mendo’a atas segala kesepian yang menderanya. Berharap datang siapapun yang akan menyelamatkan hidupnya. Do’a irene tak digubris nenek rose, meski tangis tak lagi berteteskan air mata. Nenek hanya menerima do’a irene akan kekekalannya. benar saja. Hanya kepada nenek rose-lah irene harus berdo’a dan memohon. Benar-benar tidak ada pilihan. Kehidupan yang tertutup itu semakin menambah kesunyiannya.

Irene mencoba berdo’a agar suara lolongan sang nenek tidak menggema lagi ditelinganya. Akhir-akhir ini bebunyian itu sudah tidak terdengar jelas. Bahkan tersamar oleh rintihan. Irene malah semakin bingung dengan apa yang terjadi pada nenek rose.

satu hari……

dua hari..

empat hari…………….

Dan beberapa hari berikutnya.

Hingga di suatu malam di beberapa hari berikutnya setelah hari demi hari terlewati. Irene tidur tanpa nyenyak. Suara mendengus dari hidung nenek rose, seakan membimbing jalan nafas Irene menyambung hidup. Diatas ranjang dengan sprei yang tebal, berdua berbalap mengatur laju kebebasan masing-masing. Tak ada yang menang dan yang kalah.

Hingga akhirnya irene mengalahkan diri dengan bangkit dari tidurnya. Sesaat setelah suara alam di lembah itu mendadak senyap. Irene pergi ke dapur untuk segelas air. Dinikmatinya seteguk demi seteguk air dalam gelas itu, tak sadar sekelebat bayangan hitam lewat di belakangnya.

Irene kembali ke kamar tidur. Dan mendapati seorang perampok membongkar-bongkar semua isi lemari baju. Irene tidak panik. Dia hanya mengawasi gerik dan gerak maling tersebut. Dengan diam-diam, irene menuju ke ruang tamu. Mendekati sebuah lukisan bergambar laut dengan ukuran lumayan besar. Digesernya lukisan itu dan terdapat sebuah lemari rahasia kecil, semacam brankas yang tertanam di dalam dinding kayu. Di bukanya tempat penyimpanan itu. Berbagai macam perhiasan menggunung menjadi satu dalam brankas tersebut. Anting-anting dengan gandul motif bunga, kemudian ada gelang menyerupai rantai kapal. Dan bisa ditaksir semuanya ada sekitar 2 KG emas murni. Dan belum lagi berlian dan beberapa mutiara asli.

Irene mengambil semua perhiasan itu dan ditadahi dengan menggunakan bajunya. Ia kembali menuju ke kamar. Dan menghampiri perampok itu.

“apakah yang kamu cari adalah ini?”, tanya irene polos kepada perampok yang sedang mengacak-acak seluruh isi lemari pakaiannya.

Sang perampok terdiam dan kaget melihat apa yang dilakukan irene kepadanya. Ia berdiri sambil menatap mata irene dalam-dalam. Seakan-akan ia bertanya apakah ini mimpi atau bukan.

“ambil ini!”, ucap irene sambil mengambil kain putih yang kemudian digunakannya untuk membungkus semua perhiasan itu. Perampok tadi masih terdiam. Entah karena kecantikan paras irene atau sesuatu hal dari diri irene. Setelah itu irene mendekat dan membisikkan sesuatu pada sang perampok itu.

Sebuah surat kabar terbit pagi itu. Nampaknya warga di lembah cardwood gempar. Irene dinyatakan hilang oleh pihak kepolisian setempat. Dan tidak ditemukan bekas-bekas penculikan atau tindak kejahatan lainnya. Banyak yang beranggapan bahwa irene adalah salah satu pengikut aliran sesat yang akan dijadikan tumbal persembahan. Namun ada juga yang mendekati logika bahwa sebenarnya irene adalah dalam keadaan tidak sehat mental yang melarikan diri, mengingat akhir-akhir ini, sebelum ia menghilang, irene sering terdengar ngomong sendiri di teras dan kebun belakang.

Beberapa hari kemudian seorang pelayar menemukan sosok mayat wanita lengkap dengan banyak perhiasan lengkap menempel di tubuhnya mengambang di lautan. Laut yang pemandangannya sama persis dengan lukisan di dinding kayu rumah irene di lembah cardwood.

 

23 Agustus ‘07


Salam/Masalah

Maret 8, 2008

SALAM/MASALAH

Salam(24) menghadapi dilema yang tidak seperti biasanya. Antara menerima pesanan bikin kue pastel atau menjadi pembawa acara di sebuah acara perkawinan. Apapun yang di minta orang adalah uang bagi salam. Asal ada uang, salam mau melakukan apa saja. Itupun juga sebatas kemampuannya.

Dua tahun bekerja di sebuah pabrik roti mini. Yang akhirnya berhenti karena terlibat pertengkaran dengan sesama pekerja yang lain. Menjadi petugas cleaning service di rumah sakit swasta selama 6 bulan, karena memang kontrakannya sebatas 6 bulan saja tanpa perpanjangan waktu. Satu bulan kurang menjadi operator telepon di perusahaan milik orang asing. Tidak genap sebulan beranjak hengkang lantaran tampang dan suara sangat bertolak belakang. dan keluar masuk keluar masuk lainnya yang akhirnya menjadi bagian dari curriculum vitae salam, yang tak tertulis dalam suratan.

Salam berpikir keras. Pekerjaan macam apa yang cocok untuknya. Pekerjaan yang nyaman, namun hasilnya menguntungkan. Survey punya usut, salam pada akhirnya memilih menjadi MC untuk acara perkawinan, karena kebetulan juga musim kawin sedang gencar-gencarnya. Sungguh di luar dugaan, salam menjadi MC kondang di tempat tinggalnya.

Suatu malam, sebuah mimpi menghampirinya. Diceritakan bahwa salam dikerubuti oleh sekumpulan kue pastel bersayap. Taburan tepung terigu ke badan salam ditambah air sedingin es dengan cairan telur serta gumpalan lemak kuning berbau gurih dan bubuk-bubuk kristal tak ayal menggelinjangkan raga salam hingga terbangun ke alam nyata.

“isi!!!”, desah salam. Seakan-akan bertanya isi apa nantinya yang akan menjadi isian untuk kue pastel itu.

Sebuah hal yang tidak biasa, kini dilakukan salam. Berjalan-jalan ke luar rumah untuk mencari inspirasi atas jawaban dari sebuah isi.

Di sebuah pasar tradisional, ia sibuk mencari pemandangan yang pas untuk disimak. Dilihatnya penjual stroberi dan apel menawarkan barang dagangannya. Sementara seorang pedagang sayur, sibuk menimbang tumpukan wortel yang segar-segar. Sang penjagal sedang asyik memotong daging paha sapi yang memerah. Dan masih banyak lagi pemandangan lainnya yang terpatut menjadi bagian dari jawaban itu.

Di pelabuhan, salam mencoba mencari jawaban lain di kedalaman laut. Di sebuah taman, adakah bunga-bunga yang bisa memberi jawaban?

Semua bosan dengan yang biasa, semua ingin yang tidak biasa. Karena salam sudah terbiasa untuk hal yang tak biasa, maka sedikit demi sedikit jawaban itu akhirnya terjawab.

Salam sukses dengan bisnisnya. Bisnis kue pastel aneka rasa. Di amerika ada apel pai, di indonesia ada pastel kesemek.

Beberapa bulan kemudian salam menjadi badut di sebuah acara ulang tahun anak di salah satu restoran waralaba. Tentunya, setelah ia bermimpi bertemu dengan balon warna-warni yang bernyanyi selamat ulang tahun. Di selingi dengan suara cekikikan tawa.


CANCER

Maret 8, 2008

CANCER

Salam(24), dua tahun bekerja di sebuah pabrik roti mini. Yang akhirnya berhenti karena terlibat pertengkaran dengan sesama pekerja yang lain. Menjadi petugas cleaning servise di rumah sakit swasta hanya sebatas 6 bulan saja, karena memang kontrakannya sebatas 6 bulan tanpa perpanjangan waktu. Lantas sebulan kurang kemudian menjadi operator telepon di perusahaan milik orang asing. Belum genap sebulan dia hengkang lantaran tampang dan suara sangat bertolak belakang. dan keluar masuk keluar masuk lainnya yang akhirnya menjadi bagian dari curriculum vitae salam, yang tak tertulis dalam suratan.

Salam berpikir keras. Pekerjaan macam apa yang cocok untuknya. Pekerjaan yang nyaman, namun hasilnya menguntungkan. Survey punya usut, salam pada akhirnya memilih menjadi MC untuk acara perkawinan, karena kebetulan juga musim kawin sedang gencar-gencarnya. Sungguh di luar dugaan, salam menjadi MC kondang di tempat tinggalnya.

Suatu malam, dia bermimpi. Digambarkan bahwa salam dikerubuti oleh sekumpulan kue pastel bersayap. Taburan tepung terigu ke badan salam ditambah air sedingin es dengan cairan semacam kuning telur serta gumpalan lemak kuning berbau gurih dan bubuk-bubuk kristal tak ayal menggelinjangkan raga salam hingga terbangun ke alam nyata.

“isinya??!!!”, desah salam. Seakan-akan bertanya isi apa nantinya yang akan menjadi isian untuk kue pastel itu.

Sebuah hal yang tidak biasa, kini dilakukan salam. Berjalan-jalan ke luar rumah untuk mencari inspirasi atas jawaban dari sebuah isi.

Di sebuah pasar tradisional, ia sibuk mencari pemandangan yang pas untuk disimak. Dilihatnya penjual stroberi dan apel menawarkan barang dagangannya. Sementara seorang pedagang sayur, sibuk menimbang tumpukan wortel yang segar-segar. Sang penjagal sedang asyik memotong daging paha sapi yang memerah. Seorang wanita paruh baya membungkus rumput laut dengan takaran seperempat kilo-an. Dan masih banyak lagi pemandangan lainnya yang terpatut menjadi bagian dari jawaban itu.

Semua bosan dengan yang biasa, semua ingin yang tidak biasa. Karena salam sudah terbiasa untuk hal yang tak biasa, maka sedikit demi sedikit jawaban itu akhirnya terjawab.

Salam sukses dengan bisnisnya. Bisnis kue pastel aneka rasa. Di amerika ada apel pai, di indonesia ada pastel tornado. Tanpa makaroni apalagi bihun.

Beberapa bulan kemudian salam menjadi badut di sebuah acara ulang tahun anak di salah satu restoran waralaba. Tentunya, setelah ia bermimpi bertemu dengan balon warna-warni yang bernyanyi selamat ulang tahun. Di selingi dengan suara cekikikan tawa. Lawakan dan permainan sulapnya digemari anak-anak. Salam kebanjiran job dimana-mana.

lima tahun kemudian di sebuah rumah sakit. Tepatnya di ruang terapi. Salam duduk sendirian di pojokan. Kepalanya terbungkus perban. Matanya menerawang kosong.

Seorang pasien laki-laki bertanya kepada perawat yang berdiri di dekatnya.

Mas! Kalau nggak salah, itu kan bintang film ngetop salam mankan?! Koq dia ada disini?”

Dia terkena amnesia. Gara-garanya, pada saat dia syuting, ada balok kayu besar yang menimpa kepalanya. Kasihan sekali dia. Padahal akting-nya bagus sekali. Tapi tiba-tiba aja nasibnya kayak begitu”, terang perawat itu sambil mendorong kursi roda kosong untuk dibawanya keluar dari ruangan.


Lady Bakiak

Maret 8, 2008

LADY BAKIAK

Nenek (80) yang sebatang kara itu tidak mau dipanggil nenek. “secara, aku ini nggak punya anak apalagi cucu. Jadi jangan panggil aku ‘embah’!!!”. Umpatnya pada seorang wanita yang membeli kembang tujuh rupa miliknya. Beruntung hari itu, sang nenek mendapati barang dagangannya habis tak bersisa.

Lady bakiak, itulah sebutannya di kampung tempat dia tinggal. Lantaran keseringannya memakai sandal dari kayu untuk beraktivitas di luar rumah. Apalagi suara yang ditimbulkan oleh sandal itu menggema di setiap lorong-lorong gang.

Klothak….klothak…..klothak!!! Semua pasti tahu, kalau si nenek pasti sedang melintas. Kadangkalanya beberapa warga mengeraskan volume radio atau televisinya guna menutupi suara bising yang disebabkan oleh sang nenek. Sedikit dari warga beranggapan, sebenarnya suara berisik itu adalah arwah dari sang nenek yang bergentayangan. Namun sebagian dari warga tidak mempedulikan hal itu, bagaimanapun juga, yang namanya arwah pastinya mengganggu. Pada kenyataannya, hal itu bertolak belakang dengan sikap anak-anak penghuni kampung itu. Justru kedatangan si nenek ditunggu-tunggu. Apalagi bila barang dagangan nenek habis. Pastinya tampah yang diusung dikepala rentanya itu akan dijadikan tabuhan yang mengiringi nyanyian tembang jawa kunonya.

Suatu ketika, sang nenek pulang dengan barang dagangan masih ada. Tiba-tiba awan tampak tak bersahabat. Malam yang pekat itu menjadi saksi jatuhnya rintik demi rintik pembasah bumi. Sang nenek mempercepat lajunya. Tak ada lagi suara klothak klothak. Lumpur telah menelan suara bisingnya. Dia memang lincah menepis hujan, tapi tak dinyana kakinya yang rapuh menyandung batu. Tubuh itu roboh dengan kepala terantuk batu. Sebuah batu dengan tatah deretan huruf dan angka. Nisan itu sedikit merah yang kemudian hilang dengan perlahan disapu air hujan.

Dia tak bergerak, terbujur kaku tepat didepan sebuah gubug reyot. rangkaian bambu lapuk yang tersusun tak layak yang berdiri tepat diatas sebuah kuburan cina tanpa nama.

tinggalku disana, di pemakaman Kembang Jepun. Bukan pemukimannya. Hehehehee”, tawa sang nenek sembari melayani seorang pembeli yang mencoba beramah tamah dengannya.


Menjelang Amnesia

Maret 8, 2008

Menjelang Amnesia

Seorang berjenis kelamin pria, sebut saja namanya perdana. Tinggal di dalam sebuah goa yang cukup dalam. Bahkan penduduk sekitarnya mengamini kalau-kalau goa yang di tinggalinya tersebut sangat angker. Konon katanya ada sebangsa Djin yang mendiami tempat itu. Tetapi itu semua hanya apa kata orang saja. Padahal dalam kenyataannya, perdana hidup nyaman dan tentram bersama seorang pelayan.

Di dalam goa yang gelap gulita itu (tanpa ada penerangan buatan), perdana yakin dengan hidup di dalam kegelapan akan menjadikan obat awet muda. Keyakinan itu pula-lah yang menjadikan pelayannya tidak mengenali wajah majikannya. Hanya mengandalkan suara dan bunyi gerakan yang di keluarkan majikan. Mereka hanya dibatasi dinding dari terali besi. Untuk segala kebutuhan dengan dunia luar, sang pelayan sangat membantu. Mulai dari mendapatkan makanan dan minuman, hingga berita-berita terbaru. Serta kebutuhan hidup lainnya. Tentu saja yang tidak menghasilkan cahaya.

Biaya hidup mereka layaknya sebuah sihir. Kerap kali sang pelayan meminta uang pada majikannya, namun yang didapatnya malahan sebongkah emas batangan yang nilainya setara untuk biaya hidup sampai tujuh turunan. Namun hal itu tidak sampai terjadi, karena pada setiap memberikan emas, majikan itu berpesan untuk menyumbangkan sisanya, yaitu 60%nya untuk anak-anak yatim yang ada di seluruh dunia.

Entah ada hubungan batin macam apa, keduanya saling mempercayai satu sama lain. Majikan percaya kalau pelayannya tidak akan meninggalkannya. Begitu juga sebaliknya. Walaupun sifat dan kepribadian kedua orang itu berlawanan, namun rasa saling melengkapi seakan-akan sangat terasa.

Ada satu hal yang menjadi harapan sang pelayan sebelum ajalnya menjelang nanti, yaitu melihat sosok dan tentu saja wajah sang majikannya. Dan harapan itu bertolak dengan majikannya. Majikan itu pernah berpesan, bila suatu saat nanti apabila ia meninggal dunia, maka sang pelayan harus meninggalkan goa. Karena dalam waktu sehari setelah meninggal, goa akan meledak secara otomatis. Sehingga tidak ada sisa-sisa peninggalan sedikitpun.

Suatu ketika si majikan seolah-olah mendapatkan wangsit. Dan segera menceritakannya kepada sang pelayan. Tanpa ba bi bu, pelayan tadi segera melaksanakan titah majikannya. Dengan modal kecerdasan yang dimilikinya, sang pelayan mencoba menafsirkan isi semua wangsit itu dari awal.

Dikatakan bahwa ada sebuah benda yang akan membawa malapetaka bagi dunia. Benda antik itu berada jauh dari tempat kediamannya sekarang. Dalam bentuk apa malapetaka itu terjadi, belum bisa diketahui. Namun sebelum benar-benar terjadi itulah, sang majikan menyuruh si pelayannya supaya bergegas. Dengan mempersiapkan segala kebutuhan sang majikan terlebih dahulu, si pelayan barulah bisa memulai pencariannya. Dengan cara apapun sang pelayan harus bisa mendapatkan benda itu. Termasuk membunuh. Ia berpikir, dengan langkah waspada dan teliti, dia yakin bisa mendapatkan benda itu tanpa ketahuan media. Termasuk bertemu dengan wanita pemilik benda antik itu. Dugaan si pelayan ternyata benar. Dengan jalan membunuh orang lain, dia bisa mendapatkan benda itu. Walaupun akses untuk menemui wanita milyarder itu sangat susah, berhadapan dengan bodyguard-bodyguard tangguh, si pelayan berhasil melewatinya.

Transaksi pun dimulai, dan pembunuhan itu akhirnya terjadi. Semuanya berakhir di laut mati. Benda antik sudah didapat. Pelayan kembali ke tempat singgahnya. Semoga perjalanannya kali ini berjalan mulus. Tak ada ganjalan yang berarti. Jejak sudah terhapus. Dan siap kembali ke dalam goa menemui sang majikan dan menyerahkan benda itu.

Majikan terdengar bahagia. Dua karung berisi emas diserahkan ke pelayannya. Namun sang pelayan bingung dengan apa yang dilakukan majikan tersebut. Timbul tanda tanya besar dalam benak pelayan itu. Sang majikan menjelaskan bahwa umurnya sudah tidak lama lagi. Walaupun si pelayan juga tidak mengetahui berapa umur si majikan sebenarnya, namun puluhan tahun suara yang didengarnya selalu terdengar sama hingga saat itu. Sang majikan bersyukur karena pelayannya telah melayani dengan setia. Apalagi sampai mendapatkan benda terakhir yang ia inginkan. Dedikasinya begitu luar biasa.

Pada kesempatan terakhir, si majikan memberikan sebuah dua pilihan pada pelayannya. Memilih sebuah kunci atau pil. Di ambilnya sebutir pil itu. Dan langsung ditelannya. Setelah itu sang pelayan bertanya pada majikannya, “setelah ini, apa yang akan terjadi?”.

Walaupun seandainya kau tadi mengambil kunci ini, kau harus segera keluar dari goa ini, begitu juga dengan pil itu. Tinggalkan semua barang-barangmu disini, dan kau hanya bisa membawa dua karung itu saja”

kamu pasti berpikir bahwa dengan memilih pil itu, kamu akan mati bersama ku kan? Kamu salah, itu adalah pil yang sudah aku siapkan sejak kedatanganmu kemari. Sebuah pil amnesia. Dalam jangka waktu 8 jam sejak kau menelannya, ingatanmu tentang semuanya yang terjadi bersamaku akan hilang”, tegas majikan itu.

Dan dengan kesedihan yang mendalam sang pelayan menyalahkan si majikannya. Dia menangis ingin bertemu dengan majikannya untuk yang ke terakhir kalinya. Dengan perasaan kehilangan yang sama, sang majikan hanya mengizinkan meraba wajahnya tanpa harus melihatnya. Kontak fisik terakhir itu terjadi begitu lambat.

Sudah saatnya mereka berpisah. Waktu tujuh jam itu di manfaatkan keduanya dengan akhir bahagia. Sang majikan mati dalam pelukan, si pelayan hanya bisa menjalankan apa yang pernah dipesankan majikannya. Dia meninggalkan goa itu dengan segera.

sebuah surat kabar menyorot berita tentang adanya fenomena angin tornado di lembah Cardwood. Tempat dimana goa yang pernah ditinggali pelayan itu. Kemungkinan besar ledakan yang terjadi di dalam goa itu, tertutup oleh bisingnya suara angin ribut yang sedang memporak porandakan lembah itu. Sehingga tak ada yang tahu bahwa sebelumnya pernah ada sebuah kehidupan di dalam goa itu.

Imam membuang surat kabar itu dan mengamati sebuah kunci yang menggandul di kalungnya.


BARA HARUS MENDENDAM

Maret 8, 2008

Bara Harus Mendendam

Awan mendung memayungi langkah pertamanya keluar dari pintu jeruji. Kini Ali (40) dinyatakan bebas tanpa syarat. Siap untuk menebus kekosongan, bagian dari kesempurnaan hidupnya yang hilang. Menuju ke rumah tinggalnya, dimana dia dulu pernah membina mahligai rumah tangga dengan seorang wanita cantik yang di karuniai 2 orang anak lelaki dan perempuan.

Sudah jelas di awal dugaannya. Pasti ada hal yang sedang tidak diinginkan terjadi. Dan memang itu benar dan sungguh-sungguh telah terjadi.

Rumah itu tetap sama, seperti ketika ia digerebek polisi dulu. Masih dengan warna cat yang sama, putih kusam. Namun sebuah pemandangan lain tampak dihadapan Ali. Sepasang suami istri sedang duduk-duduk di teras rumah sambil memperbincangkan sesuatu. Ali gusar. Dimanakah istri dan anaknya kini.

Ali hanya bisa terdiam mencoba untuk berputus asa agar tak timbul rindu dendam. Melangkah senada dengan hembusan angin. Mencari dunia baru. Dunia yang bisa menerima tubuh kekar dan wajah sangarnya.

Tidak butuh waktu lama, kini ali mendapatkan pekerjaan baru yaitu menjadi bodyguard seorang pesohor yang sangat mendunia. Tentunya setelah melewati beberapa audisi pencarian bakat menjadi seorang bodyguard yang di tayangkan dalam acara reality show di salah satu jaringan televisi terkemuka. Ali lolos menjadi pemenang bersama ke dua belas peserta lainnya. Karena memang hanya dibutuhkan 13 bodyguard. Mereka berhasil lolos setelah mengalahkan 8 juta pendaftar dari seluruh dunia. Benar-benar pekerjaan yang menguras energi dan waktu. Namun ali berusaha untuk melewati semua itu dengan semangat.

Banyak sekali tantangan dan cobaan yang dihadapinya. Termasuk saat-saat dimana majikannya bercerai. Disaat seperti itu, yang dibutuhkan hanyalah sebuah loyalitas tinggi. Ali dan kawan-kawan mencoba untuk setia. Walaupun pada kenyataannya, sikap sang majikan begitu sangat memuakkan. Dan di luar batas. Ali merasakan benar perubahan sikap majikannya pasca perceraian itu. Banyak sekali rahasia yang disembunyikan oleh majikannya itu. Termasuk rencana pembunuhan terhadap seseorang.

Ali sempat goyah dengan pekerjaannya. Karena resiko yang di hadapi kelak mau tidak mau pasti akan membawanya lagi ke liang lahat berjeruji besi.

Ali memilih menghindar dari tugas beratnya. Beruntung sang majikan sudah memilih orang lain yang mampu melakukan rencananya dengan sukses. Sehingga ali tak perlu pekerjaan yang bisa memberatkannya kelak.

Setelah rencana berjalan dengan lancar. Sang majikan menyuruh ali mencari beberapa barang berharga yang raib. Sebuah kepura-puraan dari sang majikan untuk menutupi pembunuhan itu. Hati nurani ali yang telah sembuh menolak atas semuanya. Kebenaran harus ditegakkan sebelum terlambat.

Seorang penyelidik dari kepolisian melakukan investigasi ke kediaman majikannya. Setelah beredar berita tentang seorang nelayan yang menemukan mayat lelaki mengambang di tengah laut. Termasuk menggali informasi ke semua orang yang ada hubungannya dengan sang korban. Ternyata yang menjadi target pembunuhan itu adalah mantan suami majikannya.

Tanpa sepengetahuan majikannya, ali membeberkan semua informasi yang ada sangkut pautnya dengan peristiwa pembunuhan ini. Semua di paparkan ali secara blak-blakan. Akhirnya pihak kepolisian mendapatkan titik terang. Dan sang majikan itupun akhirnya ditahan oleh pihak yang berwenang.

5 tahun kemudian…

pria yang bernama lengkap Ali Bara itu sukses dengan novel-novel yang telah ditulisnya. Diantaranya yang menjadi best-seller adalah TORNADO DI UFUK BARAT, MENJELANG AMNESIA, MATI DI LAUT MATI dan BARA HARUS MENDENDAM.